Rupiah melemah ke Rp18.014 per dolar U.S. di tengah eskalasi Timur Tengah
Tekanan eksternal kembali membayangi pasar valuta asing domestik setelah rupiah ditutup turun 34 poin pada akhir perdagangan Rabu, 8 Juli 2026. Pelemahan ke level Rp18.014 per dolar U.S. terjadi saat pelaku pasar mencermati meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi.
Sorotan
- Rupiah melemah ke Rp18.014 per dolar U.S. setelah U.S. melancarkan serangan terhadap Iran, memicu tekanan di pasar mata uang domestik.
- Penarikan konsesi U.S. yang memungkinkan Iran menjual minyak secara internasional diperkirakan memperketat pasar minyak beberapa minggu ke depan.
- Eskalasi konflik di Selat Hormuz menambah kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan memperbesar tekanan volatilitas pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pemicu pelemahan dan perkembangan pasar
Seperti dirangkum Okezone Economy Indonesia, tekanan terhadap rupiah dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan setelah serangan U.S. terhadap Iran. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan mata uang domestik dipicu langkah militer tersebut, mengutip pernyataan Komando Pusat U.S., atau Centcom, yang menyebut telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran untuk memberi apa yang digambarkan sebagai biaya berat atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial.Selain faktor militer, pasar juga mencermati dampak lanjutan terhadap arus perdagangan energi. Serangan itu disebut terjadi tidak lama setelah U.S. menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran menjual minyak secara internasional, sebuah langkah yang dinilai dapat memperketat pasar minyak dalam beberapa pekan mendatang.
Dampak Selat Hormuz terhadap sentimen rupiah
Eskalasi yang terus berlanjut memunculkan persoalan pelayaran yang lebih besar di Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah. Jalur ini menjadi perhatian pasar karena setiap gangguan berpotensi mendorong volatilitas harga energi dan memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah.Sebelumnya, Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz pada pekan itu. Perkembangan tersebut meningkatkan ketegangan dengan U.S. dan menambah ketidakpastian terhadap status salah satu jalur air paling penting bagi perdagangan global.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tantangan pasokan energi di tengah konflik, kami membahas peringatan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa eskalasi geopolitik dapat mengganggu jalur distribusi energi global, termasuk ketika situasi di Selat Hormuz membuat kapal PT Pertamina International Shipping sempat tertahan di Teluk Arab. Kami juga menyoroti langkah pemerintah yang memilih menjaga stabilitas dengan tidak menaikkan harga BBM subsidi di tengah ketidakpastian yang meningkat.
Berita DGSFP Terbaru
- Forex
- Crypto