Indonesia lanjutkan impor minyak mentah dari Rusia, Afrika, dan Amerika di tengah pembukaan Selat Hormuz
Pemerintah Indonesia mempertahankan strategi diversifikasi pasokan minyak mentah meski jalur pelayaran energi utama di Timur Tengah disebut segera kembali terbuka. Kebijakan ini mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat cadangan energi nasional di tengah risiko pasokan dan gejolak harga minyak global.
Sorotan
- Indonesia tetap mengimpor minyak mentah dari Rusia, Afrika, dan Amerika meski Selat Hormuz akan dibuka pada 19 Juni 2026.
- Instruksi Presiden Prabowo melalui Keppres 26 Tahun 2026 memberi badan usaha, seperti Lemigas, kewenangan impor guna memperkuat ketahanan energi nasional.
- Pemerintah Indonesia memprioritaskan diversifikasi sumber impor minyak, tidak langsung bergantung kembali pada kawasan Timur Tengah meski lalu lintas energi membaik.
Strategi pasokan dan dasar kebijakan impor
Seperti dilaporkan Kompas.com, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan Indonesia tetap mengimpor crude dari Rusia, negara-negara Afrika, dan Amerika meski Selat Hormuz segera dibuka. Ia menyebut arahan Presiden menekankan penguatan stok energi nasional melalui berbagai sumber pasokan, termasuk impor dari Rusia yang menurutnya masih berjalan dan masih dalam proses.Dwi mengatakan pembelian minyak tidak hanya berasal dari Rusia, tetapi juga dari negara lain di luar Timur Tengah yang saat ini masih terdampak konflik. Ia merinci sumber pasokan tersebut mencakup Nigeria, Angola, dan Amerika, sembari menegaskan pemerintah akan mengupayakan pengadaan dari mana pun untuk menjaga kondisi stok energi nasional.
Ia juga menyatakan Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi melalui Keppres 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan BBM. Menurut Dwi, badan usaha seperti Lemigas ikut diberi kewenangan untuk melakukan impor guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Dampak pembukaan Selat Hormuz bagi pasar energi
Rencana pembukaan penuh Selat Hormuz pada Jumat, 19 Juni 2026, muncul setelah Presiden U.S. Donald Trump menyatakan ada kesepakatan antara U.S. dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Trump, seperti dikutip AFP, mengatakan arus pelayaran di jalur minyak dunia itu mulai kembali normal dan kapal-kapal pengangkut minyak sudah kembali bergerak keluar dari selat tersebut.Media Iran juga melaporkan tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo telah melintasi wilayah yang sebelumnya diblokade oleh operasi angkatan laut U.S. Sebelumnya, Iran menutup Selat Hormuz sejak awal perang pada 28 Februari, yang memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap inflasi, sementara U.S. memblokir pelayaran menuju dan dari pelabuhan Iran.
Bagi Indonesia, perkembangan ini dapat membantu meredakan tekanan logistik energi global, tetapi belum mengubah pendekatan pengadaan yang menekankan diversifikasi asal minyak mentah. Sikap tersebut menunjukkan pemerintah masih memprioritaskan ketahanan pasokan dibanding bergantung kembali pada satu kawasan pemasok utama.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penurunan harga minyak setelah kesepakatan damai tentatif AS-Iran, kami mencatat bahwa pasar mulai menghapus premi risiko geopolitik meski pembukaan penuh Selat Hormuz masih menyisakan ketidakpastian. Brent dan WTI melemah karena pelaku pasar menunggu normalisasi arus tanker, sementara risiko pasokan dan detail kesepakatan yang belum jelas membuat volatilitas tetap tinggi.
- Forex
- Crypto