Kementerian ESDM tegaskan harga BBM nonsubsidi mengikuti pergerakan minyak dunia

Kementerian ESDM tegaskan harga BBM nonsubsidi mengikuti pergerakan minyak dunia
Harga BBM ikut minyak dunia

Pemerintah menegaskan penetapan harga bahan bakar minyak nonsubsidi tetap bergerak sesuai mekanisme pasar di tengah fluktuasi minyak mentah global. Penjelasan ini disampaikan saat kenaikan harga BBM nonsubsidi sudah berlangsung dan menjadi sorotan terhadap daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi.

Sorotan

  • Harga BBM nonsubsidi di Indonesia, termasuk Pertamax, secara otomatis naik atau turun mengikuti fluktuasi harga minyak dunia sesuai mekanisme pasar.
  • Harga Pertamax akhirnya naik menjadi Rp 16.250 setelah sebelumnya dipertahankan, karena dinamika harga minyak mentah global yang semakin fluktuatif.
  • Pemerintah menegaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi sejalan dengan negara tetangga, dan akan menurunkan harga jika harga minyak dunia turun.

Mekanisme harga pasar dan penyesuaian Pertamax

Diberitakan oleh KOMPAS.com, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan harga BBM nonsubsidi dipastikan turun ketika harga minyak dunia turun, dan akan naik ketika harga minyak dunia naik. Ia menyebut penyesuaian itu tidak terhindarkan karena BBM nonsubsidi harus mengikuti harga keekonomian.

Dwi menekankan harga BBM nonsubsidi, baik di Pertamina maupun di SPBU swasta, mengikuti mekanisme harga pasar. Menurut dia, berapa pun pergerakan harga minyak mentah dunia, pelaku usaha pada akhirnya harus menyesuaikan harga jual nonsubsidi dengan kondisi keekonomian.

Terkait Pertamax, Dwi mengatakan produk tersebut sempat dipertahankan sebagai satu-satunya BBM nonsubsidi yang tidak mengalami kenaikan harga. Namun pada akhirnya harga Pertamax dinaikkan menjadi Rp 16.250 seiring fluktuasi harga yang disebut semakin dinamis.

Dampak bagi konsumen dan konteks kawasan

Dwi menyatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi saat ini memang sudah berlangsung. Ia menambahkan negara-negara tetangga di kawasan sudah lebih dulu mengalami kenaikan atau penyesuaian harga serupa.

Ia juga mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto sempat berupaya menjaga kestabilan ekonomi dan daya beli masyarakat ketika harga Pertamax ditahan. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa jika harga minyak dunia kembali turun, akan ada penyesuaian penurunan pada harga BBM nonsubsidi.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang klarifikasi angka Rp18.040 per liter pada struk Pertalite, Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa angka tersebut merupakan harga keekonomian berdasarkan komponen harga pasar dan biaya penyediaan energi, bukan harga jual yang dibayar masyarakat. Kami juga menjelaskan bahwa harga jual Pertalite tetap mengikuti ketetapan pemerintah berkat subsidi, sementara Pertamax sebagai BBM nonsubsidi bergerak mengikuti dinamika pasar meski pernah ditahan demi menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.