Saham bank besar Indonesia melemah jelang keputusan BI Rate Juni 2026
Pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar di Indonesia berada di zona merah pada perdagangan sesi pertama saat pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 Juni 2026. Tekanan ini muncul ketika pelaku pasar memperkirakan bank sentral mempertahankan BI Rate di 5,50% setelah pengetatan agresif sejak Mei dan kenaikan darurat pada 9 Juni.
Sorotan
- Saham BBRI turun 2,60% ke Rp2.990, BBCA turun 1,59% ke Rp6.200, BBNI turun 2,11% ke Rp3.730, dan BMRI turun 2,23% ke Rp4.390 menjelang RDG BI Juni 2026.
- LPEM FEB UI memperkirakan BI menahan suku bunga di 5,50% pada Juni 2026 setelah kenaikan total 75 basis poin sejak Mei, demi stabilitas rupiah dan kontrol inflasi.
- Arus keluar asing sebesar U.S.$1,5 miliar dari pasar saham terjadi 20 Mei–11 Juni 2026, sementara cadangan devisa turun U.S.$11,6 miliar sejak awal tahun akibat intervensi BI.
Pergerakan saham dan ekspektasi suku bunga
KONTAN melaporkan, hingga pukul 10.00 WIB saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 2,60% ke Rp2.990 per saham, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 1,59% ke Rp6.200. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 2,11% ke Rp3.730 dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) susut 2,23% ke Rp4.390, setelah keempatnya juga dibuka lebih rendah pada awal perdagangan hari ini.LPEM FEB UI memperkirakan Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan di level 5,50% dalam RDG Juni 2026. Menurut lembaga tersebut, langkah itu diperlukan untuk mengevaluasi dampak pengetatan bertahap sejak Mei 2026, dengan total kenaikan 75 basis poin, sekaligus menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi.
Wakil Direktur LPEM FEB UI, Jahen Fachrul Rezki, dalam laporannya pada 17 Juni 2026 menyatakan pengetatan yang telah berjalan, intervensi valas yang berlanjut, dan kebutuhan menilai efek kebijakan terbaru menjadi alasan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan. LPEM UI juga menilai kenaikan suku bunga tambahan memiliki efektivitas terbatas dalam jangka pendek karena tekanan inflasi lebih banyak berasal dari sisi pasokan dan harga yang diatur pemerintah.
Tekanan rupiah dan implikasi pasar keuangan
Inflasi tahunan pada Mei 2026 naik menjadi 3,08% dari 2,42% pada April 2026, didorong kenaikan harga pangan setelah berakhirnya panen raya, gangguan cuaca, serta peningkatan permintaan menjelang Iduladha. Tekanan harga juga datang dari penyesuaian bahan bakar nonsubsidi dan liquefied petroleum gas rumah tangga, meski inflasi masih berada dalam target BI sebesar 1,5% hingga 3,5%.Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi perhatian utama setelah mata uang tersebut sempat menyentuh level di atas Rp18.000 per dolar U.S. pada awal Juni. Kondisi itu mendorong BI menaikkan suku bunga secara tidak terjadwal sebesar 25 basis poin pada 9 Juni 2026, yang menurut LPEM UI merupakan kenaikan di luar jadwal RDG pertama sejak 2018.
LPEM UI menilai gejolak pasar keuangan belakangan lebih banyak dipicu faktor domestik, termasuk kekhawatiran pasar atas pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia. Antara 20 Mei hingga 11 Juni 2026, pasar saham mencatat arus keluar asing sebesar U.S.$1,5 miliar, sementara pasar obligasi hanya membukukan arus masuk tipis U.S.$0,02 miliar.
Cadangan devisa Indonesia hingga Mei 2026 juga turun U.S.$1,3 miliar dibanding April dan telah menyusut sekitar U.S.$11,6 miliar sejak awal tahun akibat intervensi BI di pasar valuta asing. Meski masih setara 5,6 bulan impor dan dinilai aman, ruang pemangkasan suku bunga ke depan tetap sangat bergantung pada arah rupiah, sehingga skenario wait and see masih menjadi pandangan utama untuk RDG bulan ini.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang proyeksi RDG Bank Indonesia Juni 2026, kami membahas perkiraan LPEM FEB UI bahwa BI akan menahan BI-Rate di level 5,50% setelah pengetatan kumulatif 75 bps sejak Mei 2026. Artikel itu menekankan bahwa stabilitas rupiah dan kebutuhan mengevaluasi dampak kebijakan menjadi alasan utama, sementara risiko inflasi dinilai lebih banyak berasal dari sisi pasokan sehingga efektivitas kenaikan tambahan terbatas dalam jangka pendek.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto