KrediOne salurkan pendanaan Rp 17,6 triliun, dorong peran fintech pembiayaan hingga Mei 2026
Sejak beroperasi pada 2019, KrediOne menyalurkan pendanaan kumulatif Rp 17,6 triliun hingga Mei 2026 di berbagai wilayah Indonesia. Nilai itu mencerminkan permintaan yang terus meningkat atas pembiayaan digital yang cepat dan terjangkau, sekaligus menegaskan peran fintech pendanaan bersama dalam mendukung kegiatan ekonomi produktif.
Sorotan
- KrediOne telah menyalurkan pendanaan Rp 17,6 triliun hingga Mei 2026, memperluas akses keuangan bagi UMKM yang sebelumnya belum terlayani konvensional.
- Indeks literasi keuangan Indonesia pada 2025 mencapai 66,46% dan inklusi keuangan 80,51%, menunjukkan tren positif namun butuh penguatan pemahaman masyarakat.
- KrediOne menegaskan komitmen mendukung literasi dan inklusi keuangan digital melalui kolaborasi dengan regulator, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan nasional.
Penyaluran dana dan penguatan ekosistem digital
KONTAN Indonesia melaporkan, capaian penyaluran tersebut disampaikan Direktur Utama KrediOne sekaligus Ketua Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, Kuseryansyah, dalam siaran pers pada Jumat, 19 Juni. Ia menyatakan layanan pindar berperan strategis dalam memperluas akses keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang belum sepenuhnya terlayani lembaga keuangan konvensional.Ia menilai perkembangan industri fintech tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi antara regulator, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk membangun ekosistem digital yang sehat dan berkelanjutan. Menurutnya, pertumbuhan industri pindar juga perlu diiringi penguatan tata kelola, perlindungan konsumen, dan peningkatan literasi keuangan agar manfaat teknologi keuangan dapat dirasakan secara optimal.
Dalam kesempatan itu, Kuseryansyah juga menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat, risiko, dan tanggung jawab dalam penggunaan layanan keuangan digital. Ia mengatakan literasi keuangan yang kuat menjadi pelindung penting dari aktivitas keuangan ilegal yang memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk pinjaman online ilegal, investasi ilegal, penipuan digital, dan judi online.
Dampak bagi Jambi dan inklusi keuangan nasional
Kuseryansyah menilai Provinsi Jambi memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital di Sumatera. Potensi itu, menurutnya, ditopang oleh perkembangan UMKM, meningkatnya pemanfaatan teknologi, dan peran generasi muda dalam mendorong transformasi digital.Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%. Ia menilai angka tersebut menunjukkan tren positif, tetapi upaya berkelanjutan masih diperlukan agar akses yang lebih luas terhadap layanan keuangan diikuti pemahaman yang memadai di tingkat masyarakat.
Ketua Jurusan Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi, Rio Yusri Maulana, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi, regulator, dan industri menjadi langkah penting untuk membekali generasi muda menghadapi perkembangan ekonomi digital yang kian pesat. Melalui kegiatan seminar nasional tersebut, KrediOne menegaskan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan digital bersama regulator, institusi pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi Amar Bank memperkuat ekosistem digital untuk mendongkrak dana murah (CASA), kami membahas bagaimana bank mengandalkan kualitas pengalaman nasabah, kemudahan layanan, dan kelengkapan fitur aplikasi—bukan semata bunga simpanan—di tengah tekanan suku bunga tinggi. Kami juga menyoroti fokus Amar Bank pada penguatan platform ritel dan bisnis untuk memperluas basis nasabah, sambil menjaga stabilitas dana pihak ketiga dan menahan tekanan cost of fund.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto