Amartha salurkan pembiayaan produktif Rp47 triliun ke 4 juta UMKM hingga akhir 2025
Penyaluran pembiayaan inklusif ke usaha mikro tetap menjadi pendorong utama ekspansi fintech lending di Indonesia, seiring tingginya kebutuhan akses modal formal bagi pelaku usaha kecil. Hingga akhir 2025, Amartha menyalurkan lebih dari Rp47 triliun pembiayaan usaha produktif kepada lebih dari 4 juta UMKM, dengan sektor perdagangan menjadi penerima terbesar.
Sorotan
- Amartha menyalurkan pembiayaan produktif senilai Rp47 triliun kepada 4 juta UMKM hingga akhir 2025, mayoritas di sektor perdagangan.
- Perusahaan menargetkan ekspansi layanan pembiayaan UMKM berkelanjutan dengan optimisme atas permintaan kuat hingga setidaknya tahun 2026.
- Amartha membukukan Tingkat Keberhasilan Bayar 90 hari (TKB90) sebesar 95,16% per 22 Juni 2026, mencerminkan kualitas portofolio dalam ekspansi UMKM.
Rincian penyaluran dan rencana ekspansi
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, PT Amartha Mikro Fintek menyatakan mayoritas pembiayaan produktifnya disalurkan kepada UMKM yang bergerak di sektor perdagangan. VP of Public Relation Amartha, Harumi Supit, mengatakan capaian tersebut memperkuat keyakinan perseroan bahwa pembiayaan UMKM masih memiliki ruang pertumbuhan yang positif sepanjang 2026.Ia menilai proyeksi itu sejalan dengan tingginya kebutuhan akses pembiayaan formal di kalangan pelaku UMKM. Karena itu, Amartha menyebut akan terus memperluas jangkauan layanan pembiayaan pada segmen usaha produktif untuk menopang pertumbuhan bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Dampak bagi sektor pembiayaan UMKM
Besarnya penyaluran ke jutaan pelaku usaha menunjukkan permintaan pembiayaan produktif masih kuat, terutama pada sektor perdagangan yang menjadi tulang punggung banyak usaha mikro dan kecil. Langkah ekspansi ini juga mencerminkan persaingan yang tetap aktif di industri fintech P2P lending dalam menjangkau nasabah yang belum terlayani lembaga keuangan formal.Berdasarkan laman resmi Amartha, perusahaan mencatat Tingkat Keberhasilan Bayar 90 hari, atau TKB90, sebesar 95,16% per 22 Juni 2026. Angka itu menjadi salah satu indikator kualitas portofolio yang diperhatikan pasar ketika perusahaan memperluas penyaluran pembiayaan ke segmen UMKM.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan likuiditas perbankan pada semester II-2026, kami menyoroti kenaikan BI Rate dan likuiditas yang ketat yang berpotensi menahan laju penyaluran kredit meski pertumbuhan kredit masih solid. Kami juga membahas kenaikan loan to deposit ratio (LDR) serta implikasinya terhadap biaya dana, net interest margin (NIM), dan daya tahan bank besar dibanding bank kecil dalam menjaga ekspansi.
Berita Rheinmetall Terbaru
- Forex
- Crypto