BPDP dan Aspekpir lepas ekspor perdana lidi sawit ke China
Program pemberdayaan petani sawit dan UMKM mulai menghasilkan jalur ekspor baru bagi produk turunan perkebunan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Pengiriman perdana 28 ton lidi sawit ke China berasal dari kebun di Riau, Sumatera Utara, dan Aceh, dengan pemasaran internasional ditangani PT Arra Setya Abadi.
Sorotan
- BPDP dan Aspekpir Indonesia mengekspor perdana 28 ton lidi sawit ke China dari perkebunan di Riau, Sumatera Utara, dan Aceh.
- Ekspor melibatkan petani sawit, UMKM, dan koperasi anggota Aspekpir melalui program pemberdayaan yang meningkatkan nilai ekonomi limbah sawit.
- BPDP sejak 2024 aktif menggelar workshop di berbagai daerah untuk meningkatkan kapasitas dan standar ekspor lidi sawit, memperluas peluang pasar ekspor dan kerajinan lokal.
Ekspor perdana dan rantai pasok daerah
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Badan Pengelola Dana Perkebunan, BPDP, bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat, Aspekpir, Indonesia melepas ekspor perdana lidi sawit sebanyak 28 ton ke China. Komoditas ini dikumpulkan dan diusahakan oleh petani sawit, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta koperasi anggota Aspekpir melalui program pemberdayaan yang dijalankan bersama BPDP.Lidi sawit yang diekspor berasal dari perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau, Sumatera Utara, dan Aceh. Aspekpir menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir yang akan memasarkan produk lidi sawit ke pasar internasional.
Ketua Umum Aspekpir Setiyono mengatakan ekspor perdana ini menjadi tindak lanjut berbagai program pemberdayaan UMKM yang telah dijalankan Aspekpir bersama BPDP di sejumlah daerah di Riau dan Sumatera Utara. Ia menilai pengiriman ini menunjukkan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi petani.
Dukungan BPDP dan peluang nilai tambah
Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP melalui Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Anwar Sadat menyampaikan BPDP telah melakukan berbagai kegiatan promosi mengenai potensi nilai tambah ekonomi dari produk samping dan limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit, sejak 2024. Menurutnya, workshop produksi lidi sawit telah digelar di sejumlah daerah seperti Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Pasang Kayu, Sulawesi Barat.Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas petani sekaligus memastikan kualitas produk memenuhi standar pasar ekspor. BPDP menyatakan pengembangan lidi sawit memiliki peluang besar karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku ekspor maupun berbagai produk kerajinan yang dikerjakan pelaku UMKM di daerah.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja ekspor Indonesia Januari–April 2026, kami menyoroti surplus neraca perdagangan serta kenaikan nilai ekspor yang masih ditopang sektor nonmigas dan industri pengolahan. Kami juga mencatat Tiongkok tetap menjadi tujuan ekspor terbesar, namun pelaku usaha menghadapi tantangan kenaikan biaya logistik dan tingginya ketergantungan bahan baku impor yang dapat menekan daya saing.
Berita Supply Chain Terbaru
- Forex
- Crypto