Kiwoom Sekuritas Indonesia catat pertumbuhan margin financing 100% pada paruh pertama 2026

Kiwoom Sekuritas Indonesia catat pertumbuhan margin financing 100% pada paruh pertama 2026
Margin financing melejit 100%

Di tengah volatilitas pasar saham Indonesia pada paruh pertama 2026, penggunaan fasilitas pembiayaan margin di PT Kiwoom Sekuritas Indonesia terus meningkat. Nilainya kini mencapai sekitar Rp120 miliar, didorong minat investor memanfaatkan peluang leverage terutama pada saham berkapitalisasi besar saat harga terkoreksi tajam.

Sorotan

  • Kiwoom Sekuritas Indonesia membukukan margin financing sekitar Rp120 miliar pada paruh pertama 2026, melonjak 100% dari awal tahun.
  • Perseroan mengelola risiko margin financing dengan seleksi sekitar 150 saham berfundamental kuat sesuai pedoman PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia.
  • Penggunaan margin financing berpotensi tumbuh 20% lagi jika ekonomi Indonesia membaik, didorong minat pada saham blue-chip pasca koreksi.

Pertumbuhan pembiayaan margin dan pengelolaan risiko

Seperti dilaporkan KONTAN, Direktur Utama PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin, mengatakan nilai margin financing perseroan telah mencapai sekitar Rp120 miliar, atau naik sekitar 100% dibandingkan awal tahun ini. Ia menyampaikan hingga saat ini nilainya masih berada di kisaran tersebut dan terus menunjukkan tren pertumbuhan.

Menurut Shin, layanan margin financing saat ini tidak menghadapi kendala berarti meski kondisi pasar masih bergejolak. Perseroan menerapkan manajemen risiko yang mengacu pada pedoman PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia, serta pengawasan ketat dari Komite Manajemen Risiko Internal.

Kiwoom Sekuritas juga menyebut saham yang dapat digunakan untuk layanan ini dipilih secara selektif oleh KPEI, terutama saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Saat ini terdapat sekitar 150 saham yang memenuhi kriteria untuk transaksi margin.

Dampak bagi investor dan prospek pasar domestik

Perseroan melihat adanya kecenderungan kenaikan jumlah investor yang memanfaatkan fasilitas margin untuk mengambil peluang investasi ketika harga saham turun tajam. Fokus penggunaan terutama mengarah pada saham-saham unggulan yang dinilai lebih defensif dalam kondisi pasar yang belum stabil.

Ke depan, Shin memperkirakan penggunaan margin financing masih berpotensi meningkat jika kondisi perekonomian Indonesia membaik setelah koreksi pasar. Dalam skenario tersebut, pengguna layanan ini, khususnya pada saham blue-chip, diproyeksikan dapat tumbuh sekitar 20% dibandingkan paruh pertama tahun ini.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada Mei 2026, kami mencatat penyaluran kredit meningkat 10,8% (yoy) hingga outstanding Rp 8.759 triliun, terutama didorong kredit korporasi dan kredit investasi. Kami juga menyoroti ketahanan kredit properti—dengan lonjakan kredit konstruksi—serta perbaikan bertahap pada kredit UMKM meski belum merata.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.