Pasar tenaga kerja Indonesia hadapi mismatch di tengah dominasi pekerjaan informal
Struktur pasar kerja Indonesia masih dibayangi persoalan kualitas pekerjaan meski penciptaan lapangan kerja terus menjadi tolok ukur kinerja ekonomi. Tekanan itu terlihat dari dominasi sektor informal, rendahnya perlindungan pekerja, dan meningkatnya ketidaksesuaian antara pendidikan lulusan dengan kebutuhan pasar kerja.
Sorotan
- Sekitar 60 persen tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal, mencerminkan masalah mutu pekerjaan dan risiko upah serta perlindungan sosial.
- Data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan mismatch signifikan, dengan banyak lulusan perguruan tinggi justru masuk ke pekerjaan kasar atau berkeahlian rendah.
- Gen Z memerlukan waktu lima hingga tujuh bulan untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus, lebih lambat dibandingkan generasi X dan baby boomer.
Kualitas kerja dan dominasi sektor informal
Seperti dilaporkan Kompas.com, peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Jaya Darmawan menilai persoalan utama ketenagakerjaan Indonesia saat ini bukan hanya jumlah pekerjaan yang tersedia, tetapi mutu pekerjaan yang tercipta. Ia mengatakan sekitar 60 persen tenaga kerja Indonesia masih terserap di sektor informal, sedangkan sisanya bekerja di sektor formal.Menurut Jaya, kondisi itu menunjukkan penciptaan lapangan kerja belum sepenuhnya menghadirkan pekerjaan berkualitas. Ia menilai banyak pekerja informal masih berada pada kategori tenaga kerja berkeahlian rendah, sehingga berisiko tidak memperoleh upah layak, jaminan kesehatan yang memadai, maupun asuransi kerja yang cukup.
Ia menambahkan keberhasilan penciptaan jutaan lapangan kerja seharusnya tidak hanya diukur dari sisi jumlah, tetapi juga dari kualitas pekerjaan yang dihasilkan bagi kesejahteraan masyarakat.
Dampak mismatch bagi lulusan muda
Data Survei Angkatan Kerja Nasional, Sakernas, Agustus 2025 menunjukkan banyak lulusan perguruan tinggi akhirnya terserap ke pekerjaan kasar atau pekerjaan berkeahlian rendah. Temuan itu menjadi gambaran adanya mismatch, atau ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.Jaya mengatakan fenomena tersebut juga menimpa generasi muda, termasuk Gen Z, yang setelah lulus banyak masuk ke pekerjaan kasar. Menurutnya, kondisi itu menandakan kualitas ketenagakerjaan Indonesia masih jauh dari ideal.
Celios juga menemukan generasi muda kini membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh pekerjaan dibandingkan generasi sebelumnya. Jika generasi X dan baby boomer relatif lebih cepat masuk ke pasar kerja, Gen Z disebut perlu menunggu sekitar lima hingga tujuh bulan setelah lulus untuk mendapatkan pekerjaan, meski Indonesia masih memiliki proporsi penduduk usia produktif yang tinggi.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pemetaan tenaga kerja oleh Kadin Indonesia untuk mendukung agenda reindustrialisasi, kami menyoroti upaya mempercepat pemetaan SDM, teknik, dan profesi agar kebutuhan sektor prioritas—seperti hilirisasi mineral, kendaraan listrik, dan ekonomi digital—lebih selaras dengan ketersediaan kompetensi. Pemetaan ini dipandang penting untuk menekan ketimpangan keahlian yang berpotensi menghambat ekspansi industri serta memperkuat fondasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
Berita Labor Market Terbaru
- Forex
- Crypto