BMKG peringatkan risiko inflasi pangan dari El Nino 2026 di Indonesia

BMKG peringatkan risiko inflasi pangan dari El Nino 2026 di Indonesia
Risiko pangan El Nino 2026

Prospek El Nino 2026 yang diperkirakan mencapai level kuat mendorong kewaspadaan terhadap tekanan harga pangan nasional di tengah musim kemarau. Risiko itu muncul ketika penurunan curah hujan mengganggu produktivitas pertanian dan memperbesar ancaman terhadap stabilitas ekonomi.

Sorotan

  • BMKG memperingatkan El Nino 2026 berisiko menekan hasil pertanian dan mendorong inflasi pangan, memicu koordinasi dengan Bank Indonesia sejak Juni 2026.
  • BMKG memetakan risiko produksi, termasuk mundurnya waktu tanam dan potensi gagal panen, serta mendorong penggunaan varietas tanaman berdaya tahan air rendah.
  • BMKG dan BPS mengintegrasikan data iklim ke perencanaan ekonomi nasional dan investasi pertanian untuk memperkuat cadangan pangan dan sistem pemantauan harga.

Koordinasi mitigasi untuk musim kering panjang

Seperti diberitakan Kompas.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, BMKG, mengingatkan bahwa kemarau panjang yang dipengaruhi El Nino dapat menekan hasil pertanian dan mendorong kenaikan harga komoditas pangan. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan lembaganya terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk memperkuat antisipasi inflasi pangan ketika risiko penurunan produktivitas mulai meningkat.

Dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Dalam Negeri pada Senin, 29 Juni 2026, Faisal menjelaskan gangguan produksi dapat muncul dari mundurnya waktu tanam, gangguan fase vegetatif dan generatif, hingga meningkatnya risiko puso atau gagal panen. BMKG juga terus mendampingi pemerintah daerah dan dinas pertanian untuk memetakan risiko spesifik pada tanaman, termasuk memilih varietas dengan kebutuhan air yang lebih rendah agar dampak ekonomi dapat ditekan.

Dampak terhadap perencanaan ekonomi dan pasokan pangan

Selain berkoordinasi dengan Bank Indonesia, BMKG bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, BPS, untuk mengintegrasikan data iklim ke dalam perencanaan ekonomi nasional. Langkah ini ditujukan agar pemerintah dapat menyiapkan kebijakan yang lebih tepat bagi penguatan cadangan pangan nasional serta sistem pemantauan harga dan produksi yang lebih akurat.

BMKG menilai pertimbangan risiko iklim juga perlu masuk ke keputusan investasi, terutama di sektor pertanian, agar alokasi modal lebih tahan terhadap gangguan cuaca. Upaya pencegahan itu menjadi semakin penting karena El Nino 2026 diprediksi berlangsung cukup lama hingga Mei tahun depan.

Sensus Ekonomi 2026 yang sebelumnya kami ulas menyoroti upaya BPS memperbarui pemetaan aktivitas ekonomi Indonesia melalui pendataan door to door pada 15 Juni–31 Agustus 2026, dengan cakupan hingga rumah tangga selain seluruh pelaku usaha. Artikel tersebut juga menekankan pentingnya data yang lebih mutakhir sebagai dasar perumusan kebijakan, sekaligus tantangan di lapangan seperti kehati-hatian responden terkait privasi, pajak, dan kelengkapan informasi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.