Maipark perketat seleksi risiko saat premi reasuransi tetap tumbuh positif

Maipark perketat seleksi risiko saat premi reasuransi tetap tumbuh positif
Seleksi risiko Maipark ketat

Di tengah perlambatan bisnis asuransi harta benda, PT Reasuransi Maipark Indonesia memilih memperketat seleksi risiko sambil menjaga pertumbuhan premi tetap positif. Langkah ini mencerminkan fokus perusahaan pada kualitas portofolio dan disiplin underwriting ketika kompleksitas risiko di industri reasuransi meningkat.

Sorotan

  • Maipark menjaga pertumbuhan premi reasuransi positif dengan memperketat seleksi risiko meski bisnis asuransi harta benda melambat di industri.
  • Perusahaan proyeksikan laba tumbuh konsisten hingga akhir 2026, didorong stabilitas pasar dan kebijakan risiko yang disiplin dan efisien.
  • Rasio klaim reasuransi asuransi umum sekitar 42,7% dinilai aman, sehingga membuka peluang profitabilitas dan memperkuat cadangan teknis perusahaan.

Strategi seleksi risiko dan prospek laba

Seperti dilaporkan KONTAN, Direktur Utama Maipark Kocu Andre Hutagalung menyatakan laju premi perusahaan masih bertumbuh positif, meski melambat sejalan dengan perlambatan bisnis asuransi harta benda di tingkat industri. Ia mengatakan perusahaan tidak mengurangi bisnis, tetapi memperketat proses seleksi risiko agar kualitas portofolio tetap terjaga.

Menurut Kocu, fokus Maipark saat ini adalah mengelola risiko dengan perhitungan yang tepat dan disiplin, bukan sekadar menghindarinya. Hingga akhir 2026, perusahaan tetap optimistis prospek industri reasuransi masih positif dan memproyeksikan laba tumbuh konsisten, ditopang stabilitas pasar, efisiensi, serta kehati-hatian dalam menerima risiko.

Dampak rasio klaim bagi profitabilitas reasuransi

Kocu menilai rasio klaim reasuransi industri asuransi umum sekitar 42,7% masih berada dalam batas aman bagi perusahaan reasuransi. Meski demikian, ia mengatakan rasio klaim yang lebih rendah memberi ruang lebih besar bagi perusahaan untuk menutup biaya operasional sekaligus memperkuat cadangan teknis.

Ia menambahkan besarnya pengaruh rasio klaim terhadap profitabilitas juga bergantung pada biaya retrosesi yang ditanggung masing-masing reasuradur. Secara umum, klaim yang terkendali memperbesar peluang perusahaan membukukan keuntungan underwriting dan memperkuat permodalan, sementara penyesuaian pasar saat ini dinilai dapat menjadi fondasi pertumbuhan industri yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang prospek industri reasuransi nasional hingga akhir 2026, kami mencatat pelaku usaha makin selektif menerima risiko sebagai bagian dari penguatan manajemen risiko untuk menjaga kualitas portofolio. Kami juga menyoroti data OJK yang menunjukkan rasio klaim sekitar 42,7% masih tergolong sehat, dengan profitabilitas tetap bergantung pada kecukupan tarif premi, biaya operasional, cadangan teknis, dan dukungan retrosesi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.