Bank di Indonesia hadapi tekanan dana saat kupon obligasi korporasi menembus 10%
Persaingan memperebutkan dana nasabah besar di industri keuangan Indonesia makin ketat ketika kupon obligasi korporasi mulai menyamai hingga melampaui bunga deposito khusus bank. Kenaikan BI Rate ke 5,75% ikut memperbesar tekanan biaya dana perbankan pada semester II-2026, terutama bagi bank yang bergantung pada deposan besar dan produk deposito.
Sorotan
- Kupon obligasi korporasi PT Chandra Asri Pacific Tbk menembus 10% dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk mencapai 9,75%, melampaui bunga deposito special rate bank.
- Suku bunga DPK rupiah naik dari 2,65% (April 2026) ke 2,70% (Mei 2026) dan suku bunga kredit baru naik dari 8,95% ke 9,31% menurut Bank Indonesia.
- DPK CIMB Niaga per Mei 2026 tumbuh 8,22% yoy ke Rp326 triliun didorong pertumbuhan CASA, sementara deposito turun 15,32% ke Rp68,96 triliun.
Kupon tinggi memperketat perebutan dana
Seperti dilaporkan KONTAN, sejumlah emiten mulai menawarkan imbal hasil obligasi yang kompetitif, di antaranya PT Chandra Asri Pacific Tbk dengan kupon hingga 10% dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk sekitar 9,75%. Tingkat imbal hasil ini sudah menyamai bahkan melampaui bunga special rate deposito yang lazim ditawarkan bank kepada deposan besar.Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai kondisi itu menjadi tantangan nyata bagi perbankan dalam mempertahankan dana pihak ketiga, khususnya dari nasabah besar, korporasi, dan individu kaya yang lebih peka terhadap imbal hasil. Menurut dia, tekanan tersebut bersifat selektif dan belum langsung sistemik karena deposan masih membandingkan obligasi korporasi dengan pilihan lain seperti SBN, SRBI, dan reksa dana pasar uang.
Ia menambahkan deposito masih memiliki keunggulan dari sisi likuiditas, risiko yang relatif rendah, serta perlindungan Lembaga Penjamin Simpanan sepanjang memenuhi ketentuan bunga penjaminan. Namun, dilema bank saat ini adalah menjaga dana agar tidak keluar tanpa terlalu agresif menaikkan bunga simpanan, karena langkah itu dapat menekan margin bunga bersih dan daya saing kredit.
Data Bank Indonesia menunjukkan suku bunga DPK rupiah naik dari 2,65% pada April 2026 menjadi 2,70% pada Mei 2026. Pada periode yang sama, suku bunga kredit baru juga meningkat dari 8,95% menjadi 9,31%.
Strategi bank bergeser ke dana murah
Josua menilai bank sebaiknya tidak merespons kondisi ini dengan menaikkan special rate secara luas. Menurutnya, bunga khusus lebih efektif diberikan secara selektif kepada nasabah strategis, tenor tertentu, dan dana yang memiliki nilai bisnis, sementara bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah atau CASA melalui rekening transaksi, payroll, layanan pembayaran, cash management, dan pengembangan layanan digital.Sekretaris Perusahaan dan Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan bank tetap mempertimbangkan perkembangan pasar obligasi korporasi dalam menyusun strategi penghimpunan dana. Meski begitu, OK Bank belum melihat perpindahan dana yang signifikan dari deposito ke obligasi korporasi, karena deposito masih diminati berkat keamanan, kepastian imbal hasil, dan fleksibilitas tenor.
Menurut laman perusahaan, OK Bank menawarkan special rate deposito hingga 6,25% per tahun untuk penempatan mulai Rp10 juta. Hingga April 2026, total DPK OK Bank mencapai Rp8,93 triliun, naik 30,71% secara tahunan, dengan komposisi deposito mendominasi 78,84% dari total DPK.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan juga mengakui nasabah besar kini memiliki lebih banyak alternatif investasi. Namun CIMB Niaga tetap memfokuskan strategi pada dana murah yang berkelanjutan melalui CASA seperti payroll, cash management, merchant, dan community, meski biaya dana diperkirakan tetap naik.
Berdasarkan laman perusahaan, bunga deposito CIMB Niaga umumnya berkisar 2,75% hingga 4,25% per tahun. Per Mei 2026, DPK CIMB Niaga mencapai Rp326 triliun, naik 8,22% secara tahunan, ditopang pertumbuhan CASA, terutama giro yang melonjak 22,17% menjadi Rp106,97 triliun; tabungan naik 6,53% menjadi Rp89,39 triliun, sementara deposito turun 15,32% menjadi Rp68,96 triliun.
Dalam liputan kami sebelumnya tentang kenaikan porsi simpanan berbunga di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP), kami membahas bagaimana persaingan penghimpunan dana bank menguat pada Mei 2026 seiring meningkatnya special rate yang ditawarkan secara selektif, terutama untuk deposan besar. Kami juga menyoroti bahwa tekanan biaya dana mulai terlihat dari kenaikan suku bunga DPK dan berpotensi diteruskan ke suku bunga kredit, sehingga bank didorong memperkuat dana murah agar tidak terjebak perang bunga.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto