Bank milik konglomerat mencatat tren laba dan kredit yang beragam hingga Mei 2026
Menjelang penutupan Semester I-2026, bank-bank yang terafiliasi dengan grup konglomerat menunjukkan pola kinerja yang tidak seragam di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Hingga Mei 2026, sebagian bank membukukan perlambatan laba dan kredit, sementara beberapa lainnya masih mencetak pertumbuhan tinggi lewat strategi ekspansi yang lebih selektif.
Sorotan
- Panin Bank mencatat laba bersih turun 5,52% menjadi Rp 1,12 triliun dan kredit turun 3,4% menjadi Rp 119,47 triliun hingga Mei 2026.
- Bank Ina mencatat lonjakan laba 200% menjadi Rp 64,65 miliar, didorong kredit naik 15,83% dan pendapatan komisi naik 52,57%.
- Allo Bank tumbuh laba 1,04% menjadi Rp 189,95 miliar dengan kredit melonjak 38,63%, namun beban pencadangan naik tajam 93,74% menjadi Rp 222,24 miliar.
Perbedaan kinerja bank hingga Mei 2026
KONTAN Indonesia melaporkan, sejumlah bank milik konglomerat mengalami tekanan pada laba bersih dan penyaluran kredit sampai Mei 2026, meski sama-sama ditopang ekosistem usaha grup masing-masing.Panin Bank mencatat laba bersih bank only turun 5,52% secara tahunan menjadi Rp 1,12 triliun, seiring kredit yang turun 3,4% menjadi Rp 119,47 triliun. Bank Central Asia juga membukukan pertumbuhan laba bersih yang terbatas, naik 2,07% menjadi Rp 25,68 triliun, sementara kredit tumbuh 4,85% menjadi Rp 969,09 triliun.
Bank Mega mencatat laba naik 0,87% menjadi Rp 1,04 triliun, dengan kredit terkoreksi 0,07% menjadi Rp 67,23 triliun. Di sisi lain, Allo Bank hanya menumbuhkan laba 1,04% menjadi Rp 189,95 miliar meski kredit masih naik 38,63% secara tahunan, karena beban pencadangan melonjak 93,74% menjadi Rp 222,24 miliar.
Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan bank tetap mengedepankan prinsip prudential banking, dengan fokus pada pertumbuhan kredit yang disertai kualitas aset dan struktur pendanaan yang sehat. Ia menambahkan permintaan pembiayaan dari segmen ritel digital masih cukup resilien, terutama pada produk yang terintegrasi dengan aktivitas transaksi nasabah di ekosistem digital.
Dampak strategi hati-hati pada industri perbankan
Tidak semua bank milik konglomerat berada dalam tren lesu. Bank Ina mencatat lonjakan laba 200% menjadi Rp 64,65 miliar, didukung pertumbuhan kredit 15,83% menjadi Rp 15,43 triliun dan kenaikan pendapatan komisi 52,57% menjadi Rp 25,72 miliar.Bank Mayapada juga membukukan kenaikan laba 176,8% menjadi Rp 53,16 miliar, meski kredit hanya tumbuh 6,18% menjadi Rp 111,83 miliar. Direktur Utama Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi menjelaskan perseroan memang menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 8% secara tahunan, dengan penyaluran yang tetap terkonsentrasi ke segmen SME komersial melalui anak usaha di ekosistem grup Mayapada.
Menurutnya, ketidakpastian global masih memengaruhi situasi domestik dan membuat bank berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Industri perbankan juga terus mencermati tekanan biaya dana karena margin berisiko tergerus, sehingga bank perlu lebih selektif mencari kredit yang tetap memberikan margin positif.
Dalam liputan kami sebelumnya tentang persaingan bank memperebutkan dana deposan besar, kami membahas bagaimana kenaikan BI Rate dan imbal hasil obligasi korporasi yang makin kompetitif menambah tekanan biaya dana pada perbankan. Kami juga menyoroti strategi bank yang cenderung menggeser fokus ke penghimpunan dana murah (CASA) dan pemberian special rate secara selektif agar dana tidak keluar tanpa mengorbankan margin bunga bersih.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto