Indonesia jajaki ekspor besar ceker ayam ke China

Indonesia jajaki ekspor besar ceker ayam ke China
Ekspor Ceker Ayam ke China

Pemerintah memperluas strategi ekspor unggas dengan membidik pasar China di tengah surplus produksi ayam dan telur di dalam negeri. Langkah ini diarahkan untuk menyerap hasil peternak nasional sekaligus menambah tujuan ekspor produk unggas Indonesia.

Sorotan

  • Pemerintah Indonesia menjajaki ekspor ceker ayam ke China menyusul tingginya permintaan dan surplus produksi ayam dan telur nasional.
  • Ekspor ke Arab Saudi juga didorong untuk memenuhi konsumsi jamaah umrah dan haji, memperluas akses pasar produk unggas Indonesia.
  • Ekspor ke China dan Arab Saudi diharapkan memperbesar serapan sektor peternakan domestik dan menjaga keseimbangan pasokan unggas nasional.

Rencana ekspor untuk pasar China dan Saudi

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan pemerintah sedang menjajaki peluang ekspor ceker ayam ke China karena tingginya permintaan terhadap komoditas tersebut. Ia menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (6/7/2026).

Menurut Sudaryono, China menjadi pasar yang sangat potensial untuk ceker ayam, sementara Indonesia sedang menghadapi surplus produksi ayam dan telur. Pemerintah karena itu terus membuka akses pasar baru agar produk unggas peternak dapat terserap lebih luas.

Selain China, pemerintah juga menggenjot ekspor ke Arab Saudi. Pasar itu dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama penyelenggaraan ibadah umrah dan haji.

Dampak bagi serapan unggas nasional

Saat ini Indonesia telah mengekspor produk unggas ke 11 negara, dan pemerintah menyatakan volume pengiriman masih akan terus ditingkatkan. Perluasan pasar ke China dan Arab Saudi menjadi bagian dari upaya memperbesar serapan ekspor bagi sektor peternakan domestik.

Jika penjajakan ini berhasil, ekspor ceker ayam dapat menjadi saluran tambahan bagi kelebihan pasokan unggas nasional. Bagi industri peternakan, pembukaan pasar baru juga berpotensi membantu menjaga keseimbangan pasokan dalam negeri sambil memperkuat posisi ekspor produk unggas Indonesia di kawasan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penyesuaian Harga Acuan Penjualan (HAP) ayam hidup dan telur ayam ras, kami mengulas kebijakan yang mulai berlaku 15 Juli 2026 untuk menjaga keseimbangan sektor perunggasan. Pemerintah menetapkan HAP ayam hidup Rp19.500/kg dan menurunkan HAP telur ayam ras menjadi Rp24.000/kg, dengan tujuan menstabilkan margin peternak sekaligus menjaga harga pangan hewani tetap wajar di pasar domestik.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.