Pembiayaan produktif fintech untuk UMKM diperkirakan tetap tertekan hingga 2026

Pembiayaan produktif fintech untuk UMKM diperkirakan tetap tertekan hingga 2026
Fintech UMKM Masih Tertekan

Di tengah kebutuhan modal usaha yang masih besar di kalangan UMKM, pembiayaan produktif pada fintech peer-to-peer lending diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir 2026. Pelemahan kondisi ekonomi dan tingginya risiko kredit macet membuat penyalur dana cenderung lebih berhati-hati, meski permintaan pembiayaan tetap ada.

Sorotan

  • Pembiayaan produktif fintech P2P lending bagi UMKM diperkirakan tetap tertekan hingga 2026 karena ekonomi lesu dan risiko kredit bermasalah mendekati 5%.
  • Kenaikan suku bunga acuan yang berpotensi menaikkan bunga kredit perbankan dapat meningkatkan permintaan pembiayaan melalui fintech lending sebagai alternatif pendanaan UMKM.
  • PT Amartha Mikro Fintek telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp47 triliun untuk lebih dari 4 juta UMKM, menegaskan fokus industri pada sektor ini.

Prospek pembiayaan produktif hingga akhir 2026

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, mengatakan pembiayaan produktif fintech P2P lending masih menghadapi tantangan karena kondisi ekonomi saat ini masih lesu dan menekan pelaku usaha. Menurut dia, lender juga menjadi lebih selektif dalam memilih calon borrower yang akan menerima pinjaman.

Nailul menilai tingginya risiko kredit macet menjadi salah satu pertimbangan utama. Rasio kredit bermasalah UMKM yang mendekati 5% membuat lender cenderung menghindari segmen dengan risiko lebih tinggi, sehingga penyaluran pembiayaan ke sektor produktif berpotensi kembali menurun ke depan.

Namun, ia juga memperkirakan kenaikan suku bunga acuan yang berpotensi mendorong bunga kredit perbankan naik dapat meningkatkan permintaan pembiayaan melalui fintech lending. Kondisi itu membuka peluang bagi platform pembiayaan digital untuk tetap menjadi alternatif pendanaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

Fokus industri pada kebutuhan UMKM

Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri menilai kebutuhan pembiayaan produktif UMKM masih tetap besar. VP of Public Relation PT Amartha Mikro Fintek, Harumi Supit, mengatakan pembiayaan produktif di perusahaan masih didominasi kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha.

Hingga kini, Amartha telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp47 triliun kepada lebih dari 4 juta pelaku UMKM. Harumi menegaskan pembiayaan produktif tetap menjadi fokus utama bisnis perseroan.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia, Firlie Ganinduto, mengatakan pembiayaan produktif melalui fintech lending masih akan diarahkan untuk mendukung sektor UMKM sebagai salah satu alternatif pembiayaan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam konferensi pers di agenda Indonesia Digital Bank Summit 2026, menegaskan bahwa P2P lending masih menjadi salah satu jalur pendanaan yang banyak digunakan oleh UMKM.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang fokus penyaluran P2P lending untuk UMKM, kami membahas penegasan Asosiasi Fintech Indonesia bahwa pembiayaan lewat LPBBTI tetap diarahkan ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah meski porsi pembiayaan fintech produktif sempat turun pada April 2026. Kami juga menyoroti dorongan penggunaan Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) untuk memperkuat credit scoring agar penyaluran dana lebih terukur dan akses pendanaan UMKM tetap terbuka di tengah meningkatnya risiko.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.