AAUI dorong strategi underwriting untuk menopang premi asuransi properti hingga akhir 2026
Di tengah kenaikan biaya konstruksi dan penggantian aset, industri asuransi umum dinilai perlu memperketat disiplin bisnis untuk menjaga pertumbuhan premi asuransi properti tetap sehat hingga akhir 2026. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia juga melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur, investasi, dan pengembangan kawasan industri.
Sorotan
- AAUI menekankan penguatan underwriting, seleksi risiko, dan inspeksi objek pertanggungan untuk menjaga pertumbuhan premi asuransi properti hingga akhir 2026.
- Industri asuransi diarahkan proaktif menangkap peluang dari program pemerintah seperti 3 juta rumah dan proyek infrastruktur guna memperluas cakupan perlindungan aset baru.
- Data AAUI mencatat premi asuransi properti naik 6,5% yoy ke Rp8,31 triliun per Maret 2026, namun klaim melonjak 34,7% yoy ke Rp2,64 triliun.
Strategi industri untuk menjaga pertumbuhan premi
Menurut Kontan, Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan industri asuransi umum perlu terus memperkuat kualitas underwriting, seleksi risiko, dan inspeksi objek pertanggungan. Langkah itu perlu disertai dengan kecukupan tarif dan nilai pertanggungan yang disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.Ia menilai upaya tersebut penting agar pertumbuhan bisnis tetap sehat sekaligus menekan risiko underinsurance, terutama ketika biaya konstruksi, material, mesin, dan penggantian aset terus meningkat. Dengan pendekatan itu, perusahaan asuransi diharapkan dapat menjaga kualitas portofolio bisnis properti di tengah tekanan biaya klaim.
Peluang dari proyek pemerintah dan tren klaim
AAUI juga mendorong pelaku industri agar lebih proaktif menangkap peluang dari berbagai program pembangunan pemerintah, termasuk program 3 juta rumah, pembangunan dan revitalisasi infrastruktur, pengembangan kawasan industri, serta percepatan hilirisasi sumber daya alam. Menurut Budi, program-program tersebut berpotensi menciptakan aset baru yang membutuhkan perlindungan asuransi, baik pada tahap pembangunan maupun saat mulai beroperasi.Untuk memanfaatkan peluang itu, perusahaan asuransi perlu memperkuat kolaborasi dengan pengembang, kontraktor, perbankan, pengelola kawasan industri, BUMN, serta pelaku usaha yang terlibat dalam proyek pemerintah dan investasi. Keterlibatan sejak tahap perencanaan memungkinkan perlindungan diberikan secara menyeluruh, mulai dari risiko konstruksi melalui Construction All Risks dan Erection All Risks hingga perlindungan aset operasional lewat asuransi properti, machinery breakdown, dan business interruption.
Data AAUI menunjukkan pendapatan premi asuransi properti naik 6,5% secara tahunan menjadi Rp8,31 triliun per Maret 2026. Di saat yang sama, nilai klaim asuransi properti melonjak 34,7% secara tahunan menjadi Rp2,64 triliun, yang menegaskan pentingnya disiplin seleksi risiko dan penetapan tarif bagi profitabilitas industri.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang prospek premi asuransi properti hingga akhir 2026, kami mencatat pertumbuhan premi masih ditopang investasi dan pembangunan aset baru, namun sangat dipengaruhi realisasi proyek serta tingkat penetrasi asuransi. Kami juga menyoroti lonjakan klaim yang lebih cepat dari kenaikan premi, sehingga disiplin seleksi risiko, kecukupan tarif dan nilai pertanggungan, serta pengelolaan klaim menjadi kunci menjaga profitabilitas industri.
Berita Japan Terbaru
- Forex
- Crypto