Indonesia hadapi dugaan underpricing ekspor batu bara di tengah dominasi pasar global
Di tengah posisinya sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, Indonesia masih belum mampu mengubah dominasi volume menjadi kekuatan penetapan harga. Riset terbaru Transisi Bersih menunjukkan indikasi underpricing sistematis pada ekspor batu bara Indonesia sepanjang 2020–2025, yang diduga menekan nilai ekonomi yang diterima di dalam negeri.
Sorotan
- Studi Financial Research Center for Clean Energy menemukan batu bara Indonesia diduga dijual di bawah harga wajar setelah memperhitungkan kualitas dan biaya logistik.
- Pemerintah Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat pengaruh harga ekspor batu bara, seperti pada kebijakan nikel dan minyak sawit mentah sebelumnya.
- Indonesia menguasai pasar batu bara kalori rendah dunia namun gagal mengonversi dominasi ini menjadi kekuatan harga, sehingga nilai ekonomi maksimal belum tercapai.
Temuan riset dan dorongan penguatan harga
Sebagaimana dilaporkan Okezone Economy, studi Transisi Bersih, Financial Research Center for Clean Energy, menilai batu bara Indonesia diduga dijual di bawah harga wajar setelah memperhitungkan kualitas, kandungan energi, biaya logistik, dan waktu transaksi. Laporan berjudul "Mengurai Anomali Underpricing Ekspor Batu Bara Indonesia di Tengah Dominasi Pasar Batu Bara" menganalisis perdagangan batu bara Indonesia sepanjang 2020–2025 dengan pendekatan benchmark-adjusted price, perbandingan internasional, serta analisis struktur pasar global.Direktur Eksekutif Transisi Bersih Abdurrahman Arum mengatakan pemerintah memiliki kemampuan memengaruhi harga pasar, merujuk pada pengalaman saat kebijakan terkait nikel dan minyak sawit mentah, atau CPO, mendorong perubahan harga global. Menurut dia, pengaruh tersebut perlu dimanfaatkan sebagai leverage agar manfaat sumber daya alam lebih besar mengalir ke dalam negeri dan kepada masyarakat.
Dampak bagi penerimaan dan posisi sektor energi
Temuan utama riset itu menyebut Indonesia menguasai pasar batu bara kalori rendah dunia, tetapi belum mampu mengonversi dominasi pasar tersebut menjadi kekuatan harga. Kondisi ini membuat nilai ekonomi yang diterima Indonesia dinilai belum sebesar potensi yang seharusnya dapat diperoleh.Muhammad Irfan Islami, peneliti Transisi Bersih sekaligus penulis laporan, menilai persoalan utamanya terletak pada kegagalan menerjemahkan pangsa pasar besar menjadi posisi tawar yang lebih kuat dalam perdagangan global. Bagi sektor energi dan komoditas, temuan ini memperkuat sorotan terhadap kebijakan harga ekspor batu bara dan ruang perbaikan agar nilai tambah sumber daya alam dapat ditangkap lebih besar oleh perekonomian nasional.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi perpajakan jangka menengah pemerintah, dibahas upaya memperkuat penerimaan negara tanpa semata menaikkan tarif melalui perluasan basis pajak dan pengawasan berbasis data. Kebijakan ini menargetkan ekonomi digital, shadow economy, serta sektor informal, sekaligus memperkuat kepabeanan dan cukai lewat digitalisasi layanan, audit, dan penindakan impor maupun barang kena cukai ilegal.
Berita Commodities Terbaru
- Forex
- Crypto