Bank asing perluas pembiayaan korporasi domestik di tengah perlambatan kredit
Sejumlah bank yang dimiliki investor asing di Indonesia kini memperbesar penyaluran kredit ke pasar domestik untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah permintaan pinjaman yang masih lemah. Pergeseran strategi ini terlihat pada bank yang sebelumnya mengandalkan afiliasi dari negara asal pemegang saham, sementara peluang baru dinilai terbuka di korporasi lokal, manufaktur, hilirisasi, dan rantai pasok.
Sorotan
- Hingga Mei 2026, CIMB Niaga menyalurkan kredit Rp175,09 triliun tumbuh 8,62% yoy dan meningkatkan rasio fee income di atas 33%.
- Bank Oke Indonesia dan KB Bank fokus ekspansi pembiayaan ke korporasi domestik, dengan pertumbuhan kredit 12,66% dan 3,84% yoy menjadi Rp10,81 triliun dan Rp43,52 triliun.
- Ekonom menyoroti peluang besar pembiayaan sektor domestik dengan kredit investasi tumbuh 19,5% dan fasilitas kredit belum ditarik sebesar Rp2.575 triliun, serta risiko konsentrasi pada satu negara.
Strategi kredit bergeser ke pasar lokal
KONTAN melaporkan, PT Bank CIMB Niaga Tbk menegaskan fokus penyaluran kreditnya saat ini berada di pasar domestik, mencakup klien lokal maupun internasional. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan kinerja perseroan masih sesuai target, meski permintaan kredit relatif lemah dan likuiditas industri perbankan cukup longgar.
Kondisi itu ikut menekan margin bunga, terutama pada segmen ritel dan usaha mikro kecil dan menengah. Untuk menjaga profitabilitas, CIMB Niaga memperbesar kontribusi pendapatan berbasis komisi, dengan rasio fee income disebut sudah mencapai di atas 33%. Hingga Mei 2026, penyaluran kredit bank ini mencapai Rp175,09 triliun, tumbuh 8,62% secara tahunan.
Strategi serupa dijalankan PT Bank Oke Indonesia Tbk, yang menyatakan tidak memiliki pembiayaan kepada perusahaan dari negara asal pemegang sahamnya. Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan pertumbuhan kredit bank berasal dari pembiayaan kepada nasabah korporasi dan komersial di Indonesia, dengan keputusan kredit dilakukan secara independen berdasarkan kualitas debitur dan profil risiko. Hingga Mei 2026, kredit OK Bank tumbuh 12,66% secara tahunan menjadi Rp10,81 triliun.
PT Bank KB Indonesia Tbk masih mempertahankan perusahaan Korea Selatan sebagai salah satu kontributor pembiayaan, tetapi porsinya terus dikurangi lewat diversifikasi portofolio. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan sekitar 30% portofolio kredit wholesale bank masih berasal dari Korean link, sementara bank kini memperbesar pembiayaan ke perusahaan lokal dan membenahi segmen SME. Bank ini juga membuka ekspansi ke sektor manufaktur, barang konsumsi, sumber daya alam, farmasi, rumah sakit, logistik, hingga cold chain storage, serta memperkuat pembiayaan berbasis ekosistem. Hingga Mei 2026, penyaluran kredit KB Bank mencapai Rp43,52 triliun, naik 3,84% secara tahunan.
Peluang sektor domestik dan risiko konsentrasi
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, M. Rizal Taufikurahman, menilai bank asing tetap memiliki keunggulan dari jaringan korporasi global, teknologi, akses pendanaan, dan informasi debitur dari perusahaan induk. Namun ia menilai strategi membiayai perusahaan dari negara asal investor masih relevan, tetapi tidak cukup untuk menopang pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.Menurut dia, peluang pembiayaan justru semakin besar di sektor domestik, seiring kredit investasi yang masih tumbuh sekitar 19,5% dan fasilitas kredit yang belum ditarik masih mencapai sekitar Rp2.575 triliun. Ia mengatakan bank asing perlu memperluas pembiayaan ke korporasi domestik, sektor hilirisasi, manufaktur, infrastruktur, serta perusahaan lokal yang masuk dalam rantai pasok global.
Rizal juga mengingatkan bahwa ketergantungan pada perusahaan dari satu negara meningkatkan risiko konsentrasi portofolio. Pelemahan ekonomi di negara asal investor, perubahan kebijakan perdagangan, dan ketegangan geopolitik dapat menekan permintaan kredit sekaligus memperburuk kualitas aset, sehingga bank asing dinilai perlu menjalankan strategi dua kaki, memanfaatkan jaringan global pemegang saham sambil memperbesar basis nasabah domestik.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang dampak kenaikan BI Rate ke 5,75% terhadap biaya dana perbankan, kami mengulas bagaimana bank-bank memperkuat porsi dana murah (CASA) untuk menahan tekanan pada margin dan menjaga efisiensi pendanaan. Kami juga mencatat bahwa transmisi suku bunga ke cost of fund dan suku bunga kredit biasanya terjadi bertahap karena ada jeda penyesuaian, sehingga dampaknya ke profitabilitas cenderung tidak langsung terasa.
- Forex
- Crypto