BTN menahan pertumbuhan kredit di tengah likuiditas pasar yang ketat
Di tengah persaingan dana yang makin ketat dan suku bunga yang masih tinggi, PT Bank Tabungan Negara Tbk memilih menahan laju ekspansi kredit agar tetap berada dalam target 8% hingga 10% sampai akhir tahun. Langkah ini diambil setelah kredit BTN per Juni 2025 masih tumbuh 11,2% menjadi Rp 418,11 triliun, sambil menjaga kualitas aset dan ruang pembiayaan untuk program perumahan pemerintah.
Sorotan
- BTN menahan pertumbuhan kredit untuk mengantisipasi likuiditas pasar yang ketat, akibat besarnya instrumen SRBI dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
- Penyaluran kredit difokuskan pada program pemerintah seperti KUR Perumahan dan FLPP, sementara penyaluran ke korporasi besar berimbal hasil rendah dibatasi.
- Strategi penyaluran kredit dievaluasi secara mingguan, dengan potensi akselerasi apabila kebijakan bank sentral mulai melandai dalam beberapa bulan mendatang.
Strategi penyaluran kredit dan tekanan likuiditas
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengatakan perseroan membatasi pertumbuhan kredit untuk mengantisipasi ketatnya likuiditas di pasar. Ia menilai belum ada tanda suku bunga akan termoderasi atau turun, sementara besarnya instrumen SRBI membuat likuiditas perbankan tetap ketat.BTN menyebut kondisi ini membuat bank tidak bisa begitu saja menaikkan suku bunga kredit jangka panjang seperti kredit pemilikan rumah. Perseroan menilai kenaikan bunga kepada nasabah berisiko menekan kualitas kredit, terutama pada segmen konsumer, sehingga bank memilih menahan margin ketika bunga dana meningkat.
Menurut manajemen, penyesuaian strategi dilakukan secara berkala melalui rapat mingguan untuk memantau perkembangan makroekonomi, suku bunga, dan likuiditas. Jika arah kebijakan bank sentral mulai melandai dalam beberapa bulan mendatang, bank menyatakan pertumbuhan kredit dapat kembali dipacu.
Dampak pada portofolio dan fokus bisnis BTN
Meski ekspansi kredit ditahan, BTN menegaskan penyaluran pembiayaan untuk program pemerintah tetap berjalan, termasuk KUR Perumahan dan FLPP. Segmen ini tetap didorong sebagai bagian dari fokus bank pada pembiayaan perumahan.Sebaliknya, pembatasan lebih diarahkan pada penyaluran kredit ke korporasi besar dengan imbal hasil rendah. BTN menyatakan akan lebih selektif dan melakukan perhitungan lebih cermat terhadap kecocokan kredit baru dengan pipeline bisnis bank, seiring industri perbankan menghadapi tantangan likuiditas yang menjadi penentu utama pertumbuhan kredit saat ini.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pengelolaan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di BTN, kami membahas bagaimana BTN mengelola dana SAL sebesar Rp38 triliun yang ditempatkan pemerintah untuk menopang likuiditas dan mendorong pertumbuhan kredit. Kami juga mengulas alokasi dana tersebut ke ekspansi pembiayaan—terutama KPR, komersial, dan konstruksi—serta rencana pengembalian dana secara bertahap agar tidak menambah tekanan likuiditas perbankan.
Berita Real Estate Terbaru
- Forex
- Crypto