Rupiah menguat di penutupan perdagangan, risiko minyak tetap membayangi pasar

Rupiah menguat di penutupan perdagangan, risiko minyak tetap membayangi pasar
Rupiah naik, risiko minyak

Pergerakan rupiah berakhir lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat, setelah mata uang domestik menguat 65 poin atau sekitar 0,36 persen ke Rp17.921 per dolar U.S. Penguatan ini terjadi saat pasar tetap mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap harga energi serta arah kebijakan moneter global.

Sorotan

  • Rupiah menguat di penutupan perdagangan didorong sentimen eksternal, terutama gelombang serangan U.S. terhadap Iran memanas dan memicu kekhawatiran pasar.
  • Konflik yang berlanjut di Timur Tengah menjaga harga minyak mentah tinggi, memperbesar risiko inflasi yang kembali meningkat akibat kenaikan biaya energi.
  • Kepemimpinan Iran dilaporkan menginstruksikan Houthi siaga menutup jalur Laut Merah jika U.S. serang infrastruktur listrik, menambah ketidakpastian pasokan minyak global.

Sentimen eksternal dorong pergerakan kurs

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan salah satu sentimen utama berasal dari faktor eksternal, yakni gelombang serangan U.S. lainnya terhadap Iran pada Kamis, sehari setelah serangan yang merusak kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran.

Dalam risetnya, Ibrahim menulis bahwa permusuhan yang kembali memanas memperpanjang konflik Timur Tengah hingga bulan kelima, menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi dapat memicu inflasi lagi.

Ia juga menyoroti bahwa Teheran membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer U.S. di negara-negara tetangga, termasuk serangan besar di pangkalan udara yang baru diperluas di Yordania.

Dampak energi menjadi perhatian pasar

Kekhawatiran atas pasokan minyak bertambah setelah kepemimpinan Iran disebut telah memberi tahu sekutu Houthi untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika U.S. menyerang infrastruktur listrik Iran, menurut tiga sumber kepada Reuters.

Harga minyak yang lebih tinggi berisiko memperumit prospek kebijakan Federal Reserve karena meningkatkan kemungkinan inflasi tetap berada di atas target. Meski data inflasi konsumen dan produsen U.S. pada pekan ini menunjukkan penurunan tekanan harga inti, pasar sebagian besar mengabaikan data yang bersifat retrospektif itu di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan terbaru harga energi dapat membalikkan tren disinflasi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pengaruh penurunan harga minyak mentah terhadap rupiah, kami menyoroti bahwa pelemahan harga minyak dinilai membantu menekan beban impor energi dan memperbaiki sentimen pasar. Kami juga mencatat proyeksi kurs serta penekanan bahwa arah rupiah tetap ditentukan kombinasi faktor eksternal dan fundamental domestik, termasuk perubahan tensi konflik Timur Tengah yang memengaruhi harga energi dan arus dana asing.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.