Bank Indonesia dan perbankan tahan kenaikan bunga kredit di tengah tekanan likuiditas
Tekanan likuiditas sejak kenaikan BI Rate pada Mei 2026 mulai mendorong biaya dana bank, tetapi ruang untuk menaikkan bunga kredit masih terbatas. Perbankan lebih berhati-hati karena persaingan pendanaan, risiko kualitas aset, dan kebutuhan menjaga pertumbuhan kredit masih menahan penyesuaian bunga secara agresif.
Sorotan
- Rata-rata suku bunga kredit rupiah turun tipis ke 8,72% per Mei 2026, sedangkan bunga kredit baru naik ke 9,31%, mencerminkan efek tunda transmisi BI Rate.
- Sekitar 70%-80% portofolio kredit menggunakan bunga mengambang, membuat debitur korporasi dan komersial paling cepat terkena kenaikan beban bunga pasca-BI Rate naik 100 bps sejak Mei.
- Bank besar seperti CIMB Niaga dan BCA menahan penyesuaian agresif bunga kredit untuk menjaga daya saing di tengah likuiditas ketat, CASA BCA per Maret 2026 tumbuh 11,2% menjadi Rp1.089 triliun.
Transmisi BI Rate dan respons bunga kredit
Seperti dilaporkan Kontan, data Bank Indonesia menunjukkan rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah pada Mei 2026 turun tipis menjadi 8,72% dari 8,73% pada April 2026, sementara suku bunga kredit baru naik menjadi 9,31% dari 8,95%. BI menjelaskan perbedaan arah ini mencerminkan efek tunda transmisi kebijakan moneter, ketika kredit berjalan masih dipengaruhi repricing pinjaman lama dan kredit baru lebih cepat mencerminkan kondisi pendanaan serta persepsi risiko bank saat ini.Pada kelompok bank, bunga kredit baru bank BUMN naik menjadi 7,65% pada Mei 2026 dari 7,31% pada April 2026. Sebaliknya, BPD, BUSN, dan KCBA menurunkan bunga kredit baru masing-masing menjadi 9,18%, 10,88%, dan 7,64% dari sebelumnya 9,54%, 10,94%, dan 8,35%.
Staf Riset Ekonomi Makro PT Bank Tabungan Negara Tbk, Myrdal Gunarto, mengatakan lambatnya penurunan bunga kredit merupakan pola lama industri perbankan nasional karena struktur biaya dana masih kaku. Menurut dia, mayoritas dana pihak ketiga masih berasal dari deposito berjangka satu hingga enam bulan, sehingga bank menunggu deposito berbunga tinggi jatuh tempo sebelum menikmati penurunan biaya dana.
Myrdal menilai premi risiko, kebutuhan menjaga net interest margin, dan biaya operasional yang masih tinggi juga membuat bunga kredit sulit turun cepat. Ia memperkirakan kenaikan BI Rate 100 basis poin sejak Mei tahun ini baru sepenuhnya ditransmisikan ke bunga kredit dalam satu hingga dua kuartal, dengan kredit korporasi dan komersial menjadi segmen yang paling cepat menyesuaikan karena banyak memakai acuan suku bunga pasar uang, sedangkan KPR dan kredit kendaraan bermotor bergerak lebih lambat karena masih menawarkan bunga tetap pada tahun-tahun awal.
Dampak pada strategi bank dan pasar kredit
Menurut Myrdal, sekitar 70% hingga 80% portofolio kredit industri memakai skema bunga mengambang, sehingga debitur korporasi dan komersial paling cepat merasakan kenaikan beban bunga. Di segmen ritel, dampak terbesar diperkirakan muncul pada debitur KPR yang telah memasuki masa bunga mengambang, sementara kredit mikro dan KUR dinilai paling kecil terpengaruh karena ada subsidi bunga pemerintah.Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, mengakui kenaikan biaya dana mulai menekan margin bunga perbankan, tetapi persaingan membuat bank belum bisa sepenuhnya meneruskannya kepada debitur. CIMB Niaga memilih mengoptimalkan penghimpunan dana murah, dengan rasio CASA masih di atas 70% pada semester I, sementara per 30 Juni 2026 SBDK perseroan tercatat 8,15% untuk korporasi, 8,90% untuk ritel, menengah, dan kecil, 8,70% untuk KPR/KPA, serta 12,11% untuk kredit non-KPR/non-KPA.
BCA menyampaikan penyesuaian suku bunga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan likuiditas bank. Hingga Maret 2026, dana CASA BCA mencapai Rp1.089 triliun, tumbuh 11,2% secara tahunan dan menyumbang sekitar 85,2% dari total dana pihak ketiga, sedangkan SBDK per 30 Juni 2026 berada di 6,81% untuk korporasi, 7,74% ritel, 8,10% menengah, 8,04% kecil, 6,95% mikro, 9,14% untuk KPR/KPA, dan 8,55% untuk kredit non-KPR/non-KPA.
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk, Nixon LP Napitupulu, mengatakan BTN belum berencana menaikkan bunga KPR secara signifikan meski tekanan likuiditas meningkat. BTN hanya menyesuaikan bunga promo KPR dari 2,65% menjadi 3,75% dan mempertahankan bunga kredit jangka panjang, sambil menilai kredit komersial menjadi segmen yang paling cepat naik karena tenor lebih pendek dan repricing lebih fleksibel.
Nixon menambahkan likuiditas masih sangat ketat, dengan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia telah melampaui Rp1.000 triliun, sehingga persaingan menghimpun dana diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun. Dalam kondisi itu, BTN memilih menyerap sebagian kenaikan biaya dana ketimbang menaikkan bunga KPR secara agresif, karena fokus bank saat ini bergeser ke pengelolaan likuiditas, kualitas aset, dan keberlanjutan pertumbuhan kredit.
Strategi BTN menahan laju pertumbuhan kredit pada 2026 menjadi sorotan dalam ulasan kami sebelumnya, seiring likuiditas pasar yang ketat dan suku bunga yang masih tinggi. Kami mencatat BTN membatasi ekspansi kredit pada kisaran 8%–10% sambil tetap mendorong pembiayaan program pemerintah seperti KUR Perumahan dan FLPP, serta lebih selektif pada kredit korporasi besar berimbal hasil rendah demi menjaga kualitas aset dan ruang likuiditas.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto