Bank Indonesia proyeksikan kredit perbankan tetap ekspansif pada triwulan III 2026

Bank Indonesia proyeksikan kredit perbankan tetap ekspansif pada triwulan III 2026
Kredit tetap ekspansif 2026

Prospek intermediasi perbankan pada paruh kedua 2026 tetap terjaga meski laju penyaluran kredit diperkirakan melambat dari triwulan sebelumnya. Bank Indonesia juga melihat standar penyaluran kredit mulai lebih longgar pada triwulan III 2026 untuk menopang pertumbuhan pembiayaan.

Sorotan

  • Bank Indonesia memproyeksikan Saldo Bersih Tertimbang penyaluran kredit baru pada triwulan III 2026 sebesar 84,65%, menurun dari 93,08% pada triwulan II 2026.
  • BI memperkirakan standar penyaluran kredit akan lebih longgar pada triwulan III 2026, dengan Indeks Lending Standard di minus 2,25 dan pelonggaran terbesar pada plafon kredit dan persyaratan agunan.
  • Optimisme pertumbuhan kredit sepanjang 2026 menurun, dengan proyeksi outstanding kredit hanya tumbuh 7,51% secara tahunan, turun dari realisasi 9,69% pada 2025.

Proyeksi kredit dan pelonggaran standar

Menurut Kontan, kendati momentumnya lebih moderat, hasil Survei Perbankan Bank Indonesia yang dirilis Senin (20/7) menunjukkan prakiraan Saldo Bersih Tertimbang penyaluran kredit baru pada triwulan III 2026 sebesar 84,65%. Angka itu masih mencerminkan ekspansi, namun lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan II 2026 yang mencapai 93,08%.

BI menyatakan penyaluran kredit baru pada triwulan III 2026 diprakirakan tetap tumbuh. Prioritas penyaluran masih didominasi Kredit Modal Kerja, diikuti Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi.

Pada kredit konsumsi, perbankan diperkirakan lebih memprioritaskan kredit multiguna, lalu Kredit Pemilikan Rumah atau Apartemen, serta Kredit Kendaraan Bermotor. Dari sisi sektoral, aliran kredit baru diprakirakan terbesar menuju industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta perantara keuangan.

Sejalan dengan proyeksi tersebut, BI memperkirakan bank mulai melonggarkan standar penyaluran kredit pada triwulan III 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard yang diprakirakan berada di minus 2,25, yang mengindikasikan standar pemberian kredit lebih longgar dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pelonggaran terutama diperkirakan terjadi pada kredit investasi, KPR atau KPA, kredit modal kerja, serta kredit konsumsi lainnya. Aspek yang paling banyak dilonggarkan adalah plafon kredit dan persyaratan agunan.

Optimisme 2026 mulai mereda

Untuk keseluruhan 2026, hasil survei menunjukkan optimisme pelaku perbankan terhadap pertumbuhan kredit mulai sedikit mereda. Responden memperkirakan outstanding kredit hingga akhir 2026 tumbuh 7,51% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit 2025 sebesar 9,69%.

Perkiraan tersebut juga berada di bawah proyeksi responden pada survei sebelumnya, yang menempatkan pertumbuhan kredit 2026 di level 8,06%. Gambaran ini menunjukkan sektor perbankan masih melihat ekspansi pembiayaan berlanjut, tetapi dengan ekspektasi yang lebih hati-hati di tengah perlambatan laju pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang strategi BTN menahan laju ekspansi kredit pada 2026, kami membahas langkah bank membatasi pertumbuhan kredit di kisaran 8%–10% di tengah likuiditas yang ketat dan suku bunga yang masih tinggi. Kami juga menyoroti fokus BTN yang tetap mendorong pembiayaan perumahan (termasuk program pemerintah) sambil lebih selektif pada kredit korporasi berimbal hasil rendah demi menjaga kualitas aset dan ruang likuiditas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.