KB Bank perkuat strategi dana murah saat pertumbuhan DPK perbankan diproyeksikan melambat

KB Bank perkuat strategi dana murah saat pertumbuhan DPK perbankan diproyeksikan melambat
KB Bank fokus CASA

Di tengah proyeksi perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan pada 2026, PT Bank KB Indonesia Tbk menyiapkan langkah untuk memperkuat penghimpunan dana murah guna menjaga likuiditas dan mendukung ekspansi kredit. Bank ini mengarahkan fokus pada CASA, sambil tetap mengelola deposito berjangka secara terukur dan menyesuaikan pertumbuhan kredit dengan kapasitas pendanaan.

Sorotan

  • KB Bank memprioritaskan peningkatan dana murah (CASA) dengan memperdalam hubungan nasabah, mengoptimalkan digital, dan akuisisi nasabah baru pada segmen berpotensi.
  • DPK KB Bank tumbuh 6,04% yoy menjadi Rp44,08 triliun per Mei 2026, sementara kredit naik 3,84% yoy menjadi Rp43,52 triliun.
  • Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan DPK perbankan 2026 melambat ke 6,18% yoy dari 13,83% pada 2025, mendorong fokus pada strategi dana murah.

Strategi penghimpunan dana dan pengelolaan likuiditas

Seperti dilaporkan KONTAN, Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk Kunardy Darma Lie mengatakan perseroan memprioritaskan peningkatan current account savings account, atau CASA, melalui pendalaman hubungan dengan nasabah eksisting, pengembangan ekosistem transaksi, optimalisasi layanan digital, serta akuisisi nasabah baru pada segmen dengan potensi transaksi berkelanjutan.

Selain itu, KB Bank tetap mengelola deposito berjangka secara terukur sesuai kebutuhan likuiditas. Perseroan juga menyatakan masih dapat mengakses pendanaan wholesale dan instrumen pasar uang mengikuti kondisi pasar.

Dalam pengelolaan neraca, bank menerapkan asset and liability management secara prudent. Pertumbuhan kredit juga diselaraskan dengan kemampuan penghimpunan dana dan difokuskan pada segmen yang menawarkan kualitas aset serta imbal hasil yang baik.

Dampak perlambatan DPK bagi perbankan

Berdasarkan laporan keuangan, DPK KB Bank mencapai Rp44,08 triliun pada Mei 2026, naik 6,04% secara tahunan dari Rp41,57 triliun pada Mei 2025. Pada periode yang sama, kredit tumbuh 3,84% secara tahunan menjadi Rp43,52 triliun dari Rp41,92 triliun.

Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan DPK perbankan pada 2026 melambat menjadi 6,18% secara tahunan, dari realisasi 13,83% pada 2025. Pertumbuhan dana masih diperkirakan ditopang oleh tabungan dan giro, sementara laju pertumbuhan deposito diproyeksikan melambat.

Kondisi itu mendorong perbankan untuk semakin menitikberatkan strategi pada dana murah, karena sumber dana ini membantu menjaga biaya dana tetap terkendali saat persaingan penghimpunan likuiditas berlangsung ketat. Bagi KB Bank, pendekatan tersebut juga menjadi penopang untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit, kualitas aset, dan profitabilitas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi OK Bank memperkuat dana murah (CASA) di tengah proyeksi perlambatan DPK hingga akhir 2026, bank ini menekankan peningkatan tabungan dan giro lewat optimalisasi kanal digital serta perluasan basis nasabah untuk menjaga likuiditas. Kami juga mencatat, seiring proyeksi Bank Indonesia bahwa pertumbuhan DPK industri melambat dan deposito berpotensi melemah, penguatan CASA menjadi kunci agar biaya dana lebih efisien saat persaingan penghimpunan dana semakin ketat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.