Indonesia hadapi kenaikan karhutla, fokus penanganan dinilai menutup risiko pencegahan
Setelah pemerintah pada Oktober 2025 menyatakan ancaman kebakaran hutan dan lahan mereda, data semester pertama 2026 menunjukkan luas karhutla kembali meningkat tajam. Kenaikan itu memperlihatkan jurang antara klaim keberhasilan berbasis penanganan dan kondisi lanskap yang masih rentan memasuki musim kemarau berikutnya.
Sorotan
- Luas karhutla Indonesia Januari–Juni 2026 naik 366 persen menjadi 107.465 hektare dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
- Penanganan karhutla 2026 mengerahkan tambahan tiga batalyon TNI (1.500 personel), 17 water bombing, dan 200 pompa gambut, namun provinsi prioritas tidak berubah.
- Indikator sukses 2025 berbasis penurunan kerugian ekonomi menjadi Rp 6,7 triliun, tapi belum mengukur pemulihan atau pencegahan lahan secara substansial.
Pola penanganan berulang dari 2023 hingga 2026
Menurut Kompas, mengutip Kompas Indeks News Indonesia, data Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla Januari hingga Juni 2026 mencapai 107.465 hektare, naik 366 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya, meski pemerintah sebelumnya menilai 2025 sebagai periode keberhasilan pengendalian.Narasi kebijakan selama tiga tahun terakhir digambarkan lebih menekankan penanganan ketimbang pencegahan. Dalam pola itu, karhutla terus diposisikan sebagai ancaman yang dijawab lewat operasi darat, operasi udara, modifikasi cuaca, serta pelibatan TNI, Polri, kementerian, dan BPBD di provinsi prioritas.
Pada 2026, pendekatan tersebut kembali dijalankan dengan tambahan tiga batalyon atau sekitar 1.500 personel TNI dari luar Kalimantan, 17 pesawat water bombing, dan 200 pompa untuk gambut. Dibanding 2023 dan 2025, perubahan yang tampak terutama berada pada jumlah unit yang dikerahkan, sementara enam provinsi prioritas tetap sama.
Indikator keberhasilan dinilai belum menyentuh kondisi lahan
Kondisi itu menunjukkan evaluasi tahunan lebih menyerupai penyesuaian logistik daripada perubahan kebijakan yang menyasar akar persoalan. Pertanyaan operasional seperti kebutuhan helikopter dinilai lebih dominan dibanding evaluasi atas penyebab lanskap yang sama terus terbakar kembali.Klaim keberhasilan 2025 juga dibangun dari indikator seperti penurunan kerugian ekonomi menjadi Rp 6,7 triliun dari Rp 75 triliun pada 2019, serta lebih sedikitnya alutsista yang dikerahkan. Namun ukuran tersebut disebut sebagai indikator output penanganan, bukan indikator yang menggambarkan pemulihan kondisi lahan.
Dalam kerangka itu, belum tampak pernyataan resmi setara yang menjelaskan berapa hektare gambut dipulihkan tata airnya sepanjang 2025, berapa sekat kanal berfungsi menjelang kemarau berikutnya, atau berapa izin konsesi dicabut. Bagi sektor kehutanan dan pengelolaan lahan, fokus pada pemadaman tanpa pergeseran ke pencegahan berisiko membuat beban karhutla berulang pada musim kering berikutnya.
Dampak kabut asap karhutla terhadap penerbangan di Kalimantan Barat pernah kami soroti, ketika gangguan visibilitas di sekitar bandara memicu holding, pengalihan rute, penundaan, hingga pembatalan penerbangan. Kami juga mencatat peningkatan risiko operasional—mulai dari kebutuhan separation distance oleh ATC hingga potensi paparan partikulat pada mesin—serta biaya tambahan bagi maskapai yang dapat mengganggu rotasi dan konektivitas penerbangan nasional.
Berita Reforms Terbaru
- Forex
- Crypto