Kinerja perbankan BRI pada paruh pertama 2026 menunjukkan penguatan profitabilitas di tengah fokus perseroan pada efisiensi dan perbaikan kualitas aset. Laba bersih konsolidasi mencapai Rp31,2 triliun pada semester I-2026, meningkat dari Rp26,53 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sorotan
- PT Bank Rakyat Indonesia mencatat laba bersih Rp31,2 triliun pada semester I-2026, naik 17,5 persen year-on-year berkat efisiensi dan perbaikan fundamental.
- Cost of fund BRI turun dari 3 persen menjadi 2,4 persen dan Cost of Income Ratio membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen di triwulan II-2026.
- Rasio Non-Performing Loan menurun ke 2,9 persen, Return on Equity naik ke 18,8 persen, sementara Return on Assets tetap di 2,7 persen pada triwulan II-2026.
Pendorong laba dan perbaikan fundamental
Seperti dilaporkan Okezone Economy, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, BBRI, menyatakan pertumbuhan laba ini ditopang transformasi berkelanjutan melalui agenda Repollution Reignite yang berfokus pada perbaikan fundamental, disiplin efisiensi, dan pengelolaan risiko secara prudent. Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan kombinasi pertumbuhan bisnis dan penguatan fundamental tersebut menghasilkan laba bersih BRI di triwulan II 2026 sebesar Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen secara tahunan.Menurut Hery, salah satu pendorong utama kenaikan profitabilitas adalah efisiensi biaya pendanaan dan membaiknya kualitas aset perbankan. Cost of fund secara bank only turun dari 3 persen pada triwulan II-2025 menjadi 2,4 persen pada triwulan II-2026, sementara Cost of Income Ratio membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.
Dampak pada profitabilitas dan kualitas aset
Kualitas aset perseroan juga meningkat, tercermin dari penurunan rasio Non-Performing Loan menjadi 2,9 persen dari 3 persen pada periode sebelumnya. Pada saat yang sama, Cost of Credit turun menjadi 3,1 persen dari 3,4 persen.Dari sisi pengembalian, Return on Equity naik menjadi 18,8 persen dari 16,6 persen, sedangkan Return on Assets bertahan di level 2,7 persen. Hery menilai kombinasi funding yang lebih efisien, margin yang tetap kuat, dan kualitas aset yang membaik mulai meningkatkan kualitas imbal hasil BRI, dengan disiplin pertumbuhan dan prinsip kehati-hatian tetap dijaga ke depan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tingginya undisbursed loan perbankan, kami menyoroti fasilitas kredit yang belum ditarik debitur mencapai Rp2.548 triliun pada Juli 2026, yang mencerminkan kehati-hatian dunia usaha di tengah ketidakpastian ekonomi. Kami juga mencatat penilaian Bank Indonesia bahwa dorongan likuiditas seperti KLM belum otomatis mempercepat pertumbuhan kredit karena masih bergantung pada permintaan serta kesiapan bank dan debitur.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto