APPI soroti risiko pembiayaan multifinance untuk kebutuhan harian tanpa pendapatan

APPI soroti risiko pembiayaan multifinance untuk kebutuhan harian tanpa pendapatan
Risiko pembiayaan harian

Di tengah tekanan daya beli, penggunaan pembiayaan multifinance untuk kebutuhan sehari-hari tetap dinilai wajar selama debitur masih memiliki sumber pendapatan. Kekhawatiran muncul ketika pembiayaan dipakai untuk konsumsi harian oleh pihak yang tidak memiliki penghasilan, karena kondisi itu dapat meningkatkan potensi kredit bermasalah.

Sorotan

  • APPI menilai penggunaan pembiayaan multifinance untuk kebutuhan sehari-hari oleh pemohon tanpa pendapatan berisiko meningkatkan kredit macet di industri.
  • OJK mencatat piutang pembiayaan multifinance mencapai Rp 513,05 triliun per Juli 2026, tumbuh 2,01% secara tahunan meski kualitas debitur tertekan.
  • Rasio NPF gross multifinance naik ke 3,03% per Juli 2026 dari 3,01% bulan sebelumnya, mendorong pengetatan analisis debitur untuk menjaga kualitas aset.

Selektivitas pembiayaan di tengah tekanan daya beli

KONTAN melaporkan, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia, APPI, menilai pemanfaatan pembiayaan multifinance untuk kebutuhan sehari-hari, modal kerja, dan kebutuhan lain masih dalam batas wajar. Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno menyampaikan pandangan itu saat ditemui di Jakarta Selatan pada Kamis, 10 September 2026.

Namun, APPI menaruh perhatian pada pembiayaan untuk kebutuhan harian yang diajukan oleh orang tanpa pendapatan. Menurut Suwandi, kondisi tersebut menjadi perhatian industri karena berisiko menimbulkan kredit macet.

Ia juga menyoroti pengajuan pembiayaan di tengah tantangan daya beli saat ini. Dalam situasi itu, perusahaan multifinance disebut akan lebih selektif dalam menganalisis profil calon debitur, termasuk menilai kesesuaian antara riwayat penggunaan aset dan barang yang ingin dibiayai.

Kinerja industri dan implikasi risiko

Otoritas Jasa Keuangan, OJK, mencatat piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp 513,05 triliun per Juli 2026. Nilai itu tumbuh 2,01% secara tahunan, menunjukkan pembiayaan masih bertambah meski industri menghadapi tantangan pada sisi kualitas debitur.

Pada saat yang sama, rasio Non Performing Gross, NPF gross, perusahaan pembiayaan berada di level 3,03% per Juli 2026. Angka tersebut memburuk dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,01%, memperlihatkan bahwa kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan tetap menjadi fokus bagi pelaku industri.

Kenaikan NPF gross itu memperkuat pandangan bahwa pembiayaan konsumtif tanpa dukungan pendapatan stabil membawa risiko lebih besar bagi perusahaan multifinance. Karena itu, pengetatan analisis debitur berpotensi menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas aset di tengah lemahnya daya beli.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang dampak El Nino terhadap pembiayaan multifinance, kami membahas perhatian OJK pada risiko pembiayaan di sektor-sektor rentan cuaca seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan. OJK menilai penyaluran pembiayaan di sektor tersebut masih tumbuh, namun industri didorong memperkuat manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian agar kualitas aset tetap terjaga di tengah potensi guncangan eksternal.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.