Asuransi Asei melihat peluang pemulihan premi asuransi engineering hingga akhir 2026
Permintaan proteksi proyek rekayasa di Indonesia masih memiliki ruang tumbuh pada sisa tahun ini, meski pemulihannya diperkirakan berlangsung selektif di berbagai segmen. Prospek itu ditopang oleh investasi sektor riil, sementara kinerja premi lini engineering pada semester I-2026 masih tertekan.
Sorotan
- Premi asuransi engineering turun 14,1% year-on-year pada semester I-2026 menjadi Rp 2,37 triliun menurut data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia.
- Asuransi Asei menilai peluang pertumbuhan premi engineering lebih selektif, didorong proyek di sektor logam dasar, data center, transportasi, pertambangan, dan kawasan industri.
- Permintaan asuransi engineering akan membaik jika investasi manufaktur, infrastruktur digital, energi, logistik, dan hilirisasi terus berjalan hingga akhir 2026.
Pendorong pertumbuhan hingga akhir tahun
Seperti dilaporkan KONTAN, PT Asuransi Asei Indonesia menilai peluang pertumbuhan lini asuransi engineering atau rekayasa masih terbuka hingga akhir tahun ini. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan pertumbuhan tersebut kemungkinan lebih selektif dan tidak merata, dengan basis pasar yang tidak hanya bergantung pada proyek pemerintah.Menurut Dody, aktivitas investasi pada semester I-2026 berasal antara lain dari industri logam dasar, pusat data, pertambangan, transportasi, pergudangan, telekomunikasi, serta perumahan dan kawasan industri. Ia menilai sektor-sektor itu penting bagi industri engineering insurance karena menciptakan kebutuhan proteksi sejak tahap konstruksi hingga operasional.
Ke depan, peluang peningkatan kinerja juga dinilai datang dari investasi industri dan manufaktur, termasuk pembangunan fasilitas produksi. Selain itu, pembangunan data center, infrastruktur digital, transisi energi, energi terbarukan, kawasan industri, pergudangan, logistik, pertambangan, dan hilirisasi disebut tetap berpotensi menopang permintaan selama proyek memenuhi prinsip prudent underwriting.
Dody menambahkan proyek infrastruktur dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha, project financing, serta proyek ekspansi atau refurbishment juga sering memiliki kebutuhan asuransi engineering meskipun bukan pembangunan baru. Karena itu, ia memproyeksikan peluang hingga akhir tahun lebih tepat dibaca sebagai recovery berbasis sektor dan proyek, bukan pemulihan menyeluruh di seluruh segmen engineering.
Kontraksi premi membentuk prospek industri
Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menunjukkan premi lini asuransi engineering atau rekayasa pada semester I-2026 turun 14,1% secara tahunan menjadi Rp 2,37 triliun. Penurunan itu menjadi latar bagi pandangan industri bahwa ruang pertumbuhan tetap ada, tetapi akan bergantung pada proyek-proyek yang aktif dan profil risiko yang dinilai layak.Bagi industri asuransi umum nasional, kondisi ini menunjukkan pemulihan lini engineering masih sangat terkait dengan arah investasi sektor riil di Indonesia. Jika proyek manufaktur, infrastruktur digital, energi, logistik, dan hilirisasi terus berjalan, permintaan proteksi berpotensi membaik, meski distribusinya tidak merata di semua pelaku dan subsegmen.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kontraksi premi asuransi rekayasa pada semester I-2026, kami mengulas bahwa premi turun 14,1% yoy menjadi Rp 2,37 triliun, sementara nilai klaim justru melonjak 78,5% menjadi Rp 1,59 triliun. Kami juga menyoroti penurunan ini dipengaruhi perubahan komposisi dan penjadwalan proyek, dinamika belanja pemerintah, serta kenaikan biaya konstruksi dan pembiayaan, meski kebutuhan proteksi tetap ada dan bergeser mengikuti karakter proyek baru.
Berita Company News Terbaru
- Forex
- Crypto