BCA bantah rumor akuisisi BBCA di tengah tekanan saham

BCA bantah rumor akuisisi BBCA di tengah tekanan saham
BCA bantah akuisisi BBCA

Rumor di media sosial tentang dugaan rencana akuisisi saham PT Bank Central Asia Tbk oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, atau Haji Isam, memicu klarifikasi dari emiten perbankan tersebut. Bantahan itu muncul ketika saham BBCA masih mencatat pelemahan secara mingguan dan year to date meski ditutup menguat pada perdagangan Jumat.

Sorotan

  • BCA secara resmi membantah rumor akuisisi saham oleh Haji Isam dan menegaskan isu aksi korporasi tidak berasal dari perusahaan.
  • Saham BBCA pada Jumat, 25 September 2026, ditutup naik 0,40% ke Rp6.250 meski sepekan masih terkoreksi 0,79%.
  • Secara year to date, saham BBCA tercatat turun 22,60%, menandakan tekanan berkelanjutan di tengah isu korporasi perbankan.

Klarifikasi perusahaan atas isu aksi korporasi

Seperti dilaporkan Kontan Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk menyatakan informasi yang beredar di media sosial mengenai rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA tidak benar. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan perseroan membantah kabar soal rencana pengusaha Haji Isam mengakuisisi saham BCA.

Dalam keterangannya pada Jumat, 25 September 2026, Hera menegaskan kabar tersebut bukan informasi resmi perusahaan. Ia juga mengimbau nasabah dan masyarakat untuk memperoleh informasi terkait BCA melalui sumber resmi perseroan maupun outlet media yang kredibel.

BCA menambahkan perseroan senantiasa beroperasi berdasarkan prinsip kehati-hatian, berintegritas, dan sesuai regulasi yang berlaku. Dengan bantahan itu, perseroan kembali menegaskan isu aksi korporasi yang dikaitkan dengan Haji Isam tidak berasal dari perusahaan.

Dampak pada pergerakan saham BBCA

Di tengah beredarnya isu tersebut, saham BBCA pada perdagangan Jumat, 25 September, ditutup di level Rp6.250 per saham, naik 0,40% dari posisi sebelumnya. Namun, dalam sepekan terakhir saham ini masih terkoreksi 0,79%.

Secara year to date, saham bank berkode BBCA itu telah turun 22,60%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa meski rumor korporasi sempat menarik perhatian pasar, tekanan terhadap saham perbankan besar tersebut masih terlihat dalam horizon yang lebih panjang.

Dalam liputan kami sebelumnya tentang pembagian dividen interim BCA pada tahun buku 2026, kami membahas kelanjutan strategi dividen tiga termin, termasuk kenaikan termin kedua menjadi Rp25 per saham dan rencana melanjutkan termin ketiga. Artikel tersebut juga menyoroti dukungan fundamental semester I 2026—mulai dari laba bersih, pertumbuhan kredit, hingga posisi CASA—serta bagaimana kebijakan dividen yang lebih berkala dapat memengaruhi daya tarik BBCA di mata investor.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.