Program MBG arahkan penyaluran lebih selektif saat cakupan penerima meluas

Program MBG arahkan penyaluran lebih selektif saat cakupan penerima meluas
MBG selektif perluas penerima

Program Makan Bergizi Gratis terus diperluas menjelang tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026, dengan realisasi 56,99 juta penerima manfaat hingga Agustus 2026. Perluasan itu berlangsung ketika Badan Gizi Nasional menata ulang sasaran penerima dan tetap menargetkan 72.464.886 penerima manfaat pada 2027 meski ada efisiensi anggaran Rp30 triliun pada komponen bantuan pemerintah.

Sorotan

  • Program MBG telah mencapai 76,45 persen dari target 74,56 juta penerima manfaat per Agustus 2026, dengan kekurangan 17,56 juta penerima.
  • Badan Gizi Nasional telah mengeluarkan 1.653 satuan pendidikan bertaraf internasional dari daftar penerima MBG karena independensi finansial sekolah tersebut.
  • Pemberian MBG yang tidak selektif dinilai berisiko membebani anggaran negara dan seharusnya diprioritaskan untuk pencegahan stunting mulai kehamilan hingga balita.

Target penerima dan penataan sasaran

Seperti dilaporkan Kompas.com, program yang diluncurkan pada 6 Januari 2025 itu telah menjangkau 76,45 persen dari target 74,56 juta penerima manfaat per Agustus 2026, dengan selisih 17,56 juta penerima manfaat. Sasaran 2027 terdiri dari 60.599.777 peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD/RA/TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK sederajat, SLB, hingga santri.

Selain kelompok peserta didik, sebanyak 11.865.109 penerima manfaat lainnya berasal dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Di sisi lain, Badan Gizi Nasional belum lama ini mengeluarkan 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima manfaat MBG di seluruh Indonesia karena sekolah-sekolah tersebut bertaraf internasional dan dinilai telah mandiri secara finansial tanpa bergantung pada Bantuan Operasional Sekolah.

Implikasi anggaran dan fokus pencegahan stunting

Pakar kesehatan Hasbullah Thabrany mengatakan MBG sebaiknya tidak dibagikan merata kepada seluruh anak sekolah, karena sebagian sekolah menampung siswa dari kalangan menengah ke atas yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Menurut dia, pendekatan yang lebih selektif masih memungkinkan program menjaga daya tarik bagi siswa, tetapi tanpa memperluas subsidi ke sekolah dan kelompok yang tidak menjadi prioritas.

Ia menilai pemberian MBG secara menyeluruh berpotensi memboroskan anggaran negara yang seharusnya dapat dialihkan ke program lain. Hasbullah juga menekankan bahwa jika tujuan utama program adalah mencegah stunting, intervensi perlu diprioritaskan sejak masa kehamilan hingga anak berada pada usia balita.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang capaian dan opsi penyesuaian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kami mencatat bahwa hingga Agustus 2026 cakupan program baru mencapai 76,45% dari target 74,56 juta penerima, sementara realisasi anggaran sudah menembus Rp 139,77 triliun. Kami juga mengulas skenario penajaman pelaksanaan—memfokuskan penerima pada murid miskin, memprioritaskan wilayah 3T, atau mengurangi frekuensi bantuan—sebagai upaya menyeimbangkan efisiensi fiskal dan efektivitas intervensi gizi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.