Rupiah melemah di tengah gejolak geopolitik dan ekspektasi suku bunga U.S.
Pergerakan pasar pada akhir pekan menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan domestik. Rupiah ditutup melemah 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp18.147 per dolar U.S. pada akhir perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026.
Sorotan
- Rupiah melemah akibat gejolak geopolitik terkait opsi militer U.S. terhadap Iran dan penolakan usulan penyelesaian oleh Teheran.
- Data ekonomi U.S. menunjukkan indeks harga PCE inti naik 0,3 persen dan GDP kuartal ketiga tumbuh 3,4 persen, memperkuat prospek kenaikan suku bunga dengan probabilitas 83 persen.
- Ketidakpastian domestik diperparah oleh aksi protes mahasiswa sejak awal Oktober, meningkatkan kehati-hatian investor terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia.
Faktor eksternal dorong tekanan kurs
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, pelemahan rupiah antara lain dipicu gejolak eksternal setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa kepala Komando Pusat U.S., Laksamana Brad Cooper, memberi penjelasan kepada Presiden Donald Trump mengenai opsi militer terhadap Iran di Gedung Putih bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan sejumlah pejabat senior lain.Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan perkembangan tersebut meredupkan harapan penyelesaian diplomatik, meski Washington masih berupaya membuka kembali kontak dengan Teheran untuk menghidupkan negosiasi. Menurut risetnya, pasar juga mencermati laporan bahwa Teheran menolak usulan penyelesaian, sehingga prospek tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat menjadi tidak pasti.
Sentimen global juga datang dari data ekonomi U.S. Indeks harga PCE inti naik 0,3 persen secara bulanan, sementara secara tahunan inflasi inti meningkat menjadi 3,1 persen dari 3,0 persen pada Agustus, sejalan dengan perkiraan. Pada saat yang sama, produk domestik bruto kuartal ketiga tumbuh 3,4 persen secara tahunan, melampaui estimasi 3,2 persen dan naik dari 2,2 persen pada kuartal sebelumnya.
Kombinasi data tersebut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember. CME FedWatch Tool bahkan menunjukkan probabilitas kenaikan sebesar 83 persen, yang menambah dukungan bagi dolar U.S. dan memberi tekanan pada mata uang emerging markets seperti rupiah.
Ketidakpastian domestik tambah kehati-hatian investor
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai ketegangan politik yang berlanjut di tengah aksi protes mahasiswa di berbagai kota besar sejak awal Oktober turut menambah ketidakpastian ekonomi Indonesia. Demonstrasi itu mencerminkan ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran hutan, isu lingkungan, dan penggunaan anggaran negara untuk berbagai program pemerintah.Ia menekankan bahwa perkembangan politik perlu diperhatikan karena stabilitas politik berkaitan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional. Menurut dia, pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan masyarakat, mengevaluasi kebijakan yang menjadi tuntutan demonstran, serta menjaga agar aksi penyampaian pendapat berlangsung aman dan kondusif.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah ke Rp17.938 per dolar U.S., kami mengulas bagaimana eskalasi risiko di Selat Hormuz ikut memicu kekhawatiran suplai energi dan volatilitas kurs. Ulasan tersebut juga menyoroti data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan sebagai faktor yang membuat pelaku pasar kian defensif terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging markets seperti rupiah.
Berita Forex Terbaru
- Forex
- Crypto