CIMB Niaga menunggu arah BI Rate di tengah kenaikan suku bunga

CIMB Niaga menunggu arah BI Rate di tengah kenaikan suku bunga
CIMB Niaga tunggu BI Rate

PT Bank CIMB Niaga Tbk masih mencermati perkembangan suku bunga acuan Bank Indonesia sebelum menentukan langkah lanjutan terhadap kondisi likuiditas dan pendanaan. Di tengah BI Rate yang telah naik 100 basis poin sepanjang 2026 ke level 5,75%, bank ini tetap menyesuaikan responsnya dengan situasi pasar dan kebijakan regulator.

Sorotan

  • CIMB Niaga menunggu keputusan Bank Indonesia terkait BI Rate yang telah naik 100 basis poin menjadi 5,75% sepanjang 2026.
  • CASA CIMB Niaga tumbuh 6,9% secara tahunan menjadi Rp193,1 triliun pada semester I 2026, menunjukkan ketahanan dana murah.
  • Rasio CASA terhadap DPK mencapai 71,7%, menandakan basis pendanaan berbiaya rendah tetap terjaga meski ada tekanan kenaikan suku bunga.

Sikap perseroan terhadap suku bunga

Seperti dilaporkan KONTAN, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan perseroan masih menunggu perkembangan berikutnya sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait arah BI Rate. Ia mengatakan bank akan mengikuti situasi dan kondisi yang ada, apa pun keputusan Bank Indonesia terhadap suku bunga acuan.

Pernyataan itu disampaikan Lani kepada KONTAN pada Selasa, 20 Oktober 2026. BI Rate kini berada di level 5,75% setelah naik 100 basis poin sepanjang tahun ini.

Dampak pada pendanaan dan likuiditas

Hingga semester I 2026, dana murah atau current account saving account, CASA, CIMB Niaga tumbuh 6,9% secara tahunan menjadi Rp193,1 triliun. Pada periode yang sama, total dana pihak ketiga, DPK, naik 2,8% dibandingkan setahun sebelumnya menjadi Rp269,3 triliun.

Dari capaian tersebut, rasio CASA CIMB Niaga mencapai 71,7% dari total DPK. Kinerja penghimpunan dana ini memberi gambaran bahwa bank masih menjaga basis pendanaan berbiaya rendah di tengah fase kenaikan suku bunga acuan di industri perbankan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergeseran bank-bank besar ke pendapatan berbasis komisi (fee-based income), kami mengulas bagaimana perlambatan pendapatan bunga bersih mendorong bank memperkuat sumber pendapatan nonbunga. Kami juga menyoroti CIMB Niaga yang mengarahkan pertumbuhan revenue ke fee income—terutama dari wealth management, remitansi, dan layanan multi-currency—seiring margin bunga yang masih tertekan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.