Pavlo Kot

ADPI proyeksikan imbal hasil dana pensiun capai 4%-5% pada akhir tahun

ADPI proyeksikan imbal hasil dana pensiun capai 4%-5% pada akhir tahun
Imbal hasil pensiun naik

Kinerja investasi industri dana pensiun menunjukkan pemulihan hingga Agustus 2026 setelah sempat tertekan pada pertengahan tahun. Asosiasi Dana Pensiun Indonesia memperkirakan tren itu berlanjut sampai akhir tahun, ditopang peluang di pasar modal domestik dan tingkat suku bunga yang tetap tinggi.

Sorotan

  • ADPI memproyeksikan imbal hasil dana pensiun mencapai 4%-5% pada akhir 2026, naik dari 2,12% pada Agustus 2026.
  • Kenaikan RoI didorong besarnya investasi domestik di pasar modal serta suku bunga acuan Bank Indonesia yang tetap di level 5,75%.
  • ADPI memperingatkan risiko penurunan nilai wajar pasar modal yang dapat menekan hasil investasi dan membatasi RoI meski prospek tetap positif.

Pemulihan roi dan pendorong hingga akhir 2026

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan mencatat return on investment, atau RoI, industri dana pensiun turun dari 0,51% pada Mei 2026 menjadi 0,02% pada Juni 2026, sebelum naik ke 0,95% pada Juli 2026 dan kembali menguat menjadi 2,12% pada Agustus 2026.

Staf Ahli ADPI Bambang Sri Mulyadi mengatakan proyeksi RoI industri dana pensiun pada akhir tahun berkisar 4% hingga 5%, lebih tinggi dari posisi Agustus 2026. Menurut dia, kenaikan itu didorong peluang yang dapat dioptimalkan pelaku industri, termasuk masuknya investor domestik dalam jumlah besar ke pasar modal yang berpotensi mengangkat nilai pasar wajar.

Ia menambahkan, apabila momentum tersebut dimanfaatkan, hasil usaha dan RoI dana pensiun dapat terdorong lebih tinggi. ADPI juga menilai level suku bunga acuan Bank Indonesia yang ditahan di 5,75% membuka ruang bagi dana pensiun untuk memperoleh imbal hasil lebih baik dari instrumen seperti deposito.

Risiko pasar dan implikasi bagi industri

Bagi industri dana pensiun, kombinasi penguatan pasar domestik dan bunga simpanan yang relatif tinggi memberi peluang untuk memperbaiki kinerja investasi pada sisa tahun ini. Kondisi itu juga menjadi penopang ketika pelaku industri menata alokasi aset di tengah upaya memperbesar hasil usaha.

Meski demikian, ADPI mengingatkan adanya risiko yang tetap perlu diwaspadai, terutama jika nilai wajar instrumen pasar modal kembali menurun. Pergerakan aset keuangan yang tidak stabil dapat menekan hasil investasi dan membatasi capaian RoI meskipun prospek hingga akhir 2026 masih mengarah naik.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja unitlink saham berbasis valuta asing hingga September 2026, kami menyoroti bahwa pelemahan rupiah membantu mengerek imbal hasil saat keuntungan investasi valas dikonversi ke rupiah, sementara unitlink saham domestik justru tertekan. Ulasan itu juga menekankan bahwa hasil antar-kategori tidak merata dan investor tetap perlu mengantisipasi risiko fluktuasi kurs karena penguatan rupiah dapat menggerus keuntungan selisih nilai tukar.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.