Jasindo hadapi tantangan asuransi rekayasa di 2026, fokus jaga kualitas portofolio

Jasindo hadapi tantangan asuransi rekayasa di 2026, fokus jaga kualitas portofolio
Jasindo fokus portofolio 2026

Bisnis asuransi rekayasa pada 2026 masih bergerak di tengah dinamika proyek konstruksi dan infrastruktur yang memengaruhi permintaan serta profil risiko. Jasindo menilai kebutuhan proteksi untuk lini ini tetap relevan, terutama pada proyek strategis, sambil menyiapkan pengelolaan risiko yang lebih ketat hingga akhir tahun.

Sorotan

  • Jasindo mencatat kinerja asuransi rekayasa 2024 masih dipengaruhi dinamika konstruksi, penyelesaian proyek, biaya material, dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
  • Jasindo menegaskan fokus pada manajemen risiko dan prudent underwriting untuk menjaga kualitas portofolio, bukan sekadar mengejar pertumbuhan premi.
  • Strategi Jasindo hingga 2026 meliputi penguatan risk management partnership, kolaborasi stakeholder, serta evaluasi risiko berkala mengikuti kebutuhan proyek strategis sektor konstruksi.

Tantangan proyek dan strategi underwriting

Seperti diberitakan KONTAN, Sekretaris Perusahaan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Brellian Gema Widayana mengatakan kinerja asuransi rekayasa tahun ini masih dipengaruhi oleh dinamika sektor konstruksi dan infrastruktur. Karakteristik lini ini, yang sangat terkait dengan perkembangan proyek, membuat pergerakan bisnis pada periode tertentu bergantung pada realisasi proyek di berbagai sektor.

Menurut dia, faktor yang memengaruhi lini asuransi rekayasa mencakup waktu pelaksanaan dan penyelesaian proyek, penyesuaian biaya konstruksi, serta pengadaan material dan peralatan. Pergerakan nilai tukar rupiah juga perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi perkembangan biaya proyek, meski dampaknya berbeda pada setiap proyek sesuai karakteristik masing-masing.

Di tengah kondisi itu, Jasindo menyatakan akan terus mengoptimalkan pengelolaan portofolio melalui penerapan manajemen risiko yang komprehensif. Perusahaan tidak hanya berfokus mengejar pertumbuhan premi, tetapi juga memastikan setiap risiko dinilai secara menyeluruh dan prinsip prudent underwriting diterapkan untuk menjaga kualitas portofolio.

Dampak bagi sektor konstruksi dan fokus hingga akhir tahun

Kebutuhan terhadap perlindungan asuransi rekayasa, menurut Jasindo, masih tetap relevan terutama pada proyek-proyek strategis yang terus berjalan. Hal itu menunjukkan permintaan tidak semata ditentukan oleh volume proyek, tetapi juga oleh kebutuhan mitigasi risiko pada tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian.

Untuk menjaga kinerja hingga akhir tahun, Jasindo memperkuat pendekatan risk management partnership. Melalui strategi ini, perusahaan tidak hanya menyediakan perlindungan asuransi, tetapi juga mendampingi nasabah dalam mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memitigasi risiko proyek.

Jasindo juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor konstruksi dan infrastruktur serta melakukan evaluasi risiko secara berkala. Langkah ini ditujukan agar solusi perlindungan yang diberikan tetap relevan dengan kebutuhan nasabah dan dinamika industri sepanjang 2026.

Risk and Governance Summit 2026 yang disiapkan OJK menjadi forum untuk membahas praktik terbaik governance, risk, and compliance (GRC) di sektor jasa keuangan Indonesia, dengan penekanan pada transparansi, etika, dan tata kelola. Dalam pemberitaan kami sebelumnya, OJK juga menyoroti pendekatan berbasis evaluasi dan masukan pelaku industri untuk menilai apakah pengaturan perlu diperkuat, sekaligus meredam kekhawatiran pasar terkait evaluasi klasifikasi pasar modal Indonesia oleh S&P Dow Jones Index karena eksposur dana pasif dinilai relatif kecil.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.