Pefindo Biro Kredit catat risiko kredit BNPL meningkat, debitur usia 20-30 tahun masih mendominasi

Pefindo Biro Kredit catat risiko kredit BNPL meningkat, debitur usia 20-30 tahun masih mendominasi
Risiko kredit BNPL naik

Pengguna Buy Now Pay Later di Indonesia masih terkonsentrasi pada kelompok usia produktif, dengan porsi terbesar berasal dari debitur berusia 20 tahun hingga 30 tahun. Di saat yang sama, kenaikan rasio pembiayaan bermasalah menunjukkan tekanan risiko yang perlu diantisipasi agar pertumbuhan BNPL tetap sehat.

Sorotan

  • Data Pefindo Biro Kredit per Mei 2026 menunjukkan usia 20-30 tahun menyumbang 40,2% dari total outstanding BNPL.
  • Non-Performing Financing (NPF) di sektor BNPL naik ke 3,11% year on year, meningkatkan risiko kredit terutama pada debitur berpendapatan tidak tetap.
  • Penerapan teknologi seperti AI, machine learning, dan data alternatif dinilai krusial untuk memperbaiki analisa risiko dan menekan gagal bayar BNPL.

Komposisi debitur dan kenaikan risiko per Mei 2026

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data PT Pefindo Biro Kredit (idScore) per Mei 2026 menunjukkan kelompok usia 20 tahun sampai 30 tahun menyumbang sekitar 40,2% dari total outstanding pembiayaan BNPL.

Direktur Utama Pefindo Biro Kredit Tan Glant Saputrahadi mengatakan layanan BNPL masih banyak dimanfaatkan masyarakat usia produktif, terutama kelompok yang aktif bertransaksi secara digital dan membutuhkan pembiayaan yang fleksibel. Ia menilai temuan itu memperlihatkan kuatnya peran Gen Z dan milenial muda dalam mendorong penggunaan BNPL.

Namun, kelompok debitur ini juga dipandang memiliki risiko lebih tinggi terhadap kredit macet. idScore mencatat Non-Performing Financing, NPF, naik ke level 3,11% secara year on year, sementara risiko kredit juga membayangi debitur dengan pendapatan yang tidak tetap.

Tan menekankan pemanfaatan credit scoring dan pemantauan risiko secara berkelanjutan tetap penting agar penyaluran BNPL dapat terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Teknologi dinilai penting bagi kualitas pembiayaan

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan sejumlah inovasi teknologi dapat membantu perusahaan pembiayaan mengantisipasi risiko gagal bayar pada layanan BNPL.

Menurut dia, perusahaan pembiayaan dapat memakai teknologi AI dan machine learning untuk menganalisis profil risiko calon pengguna secara lebih akurat, termasuk melalui pola transaksi dan kemampuan bayar debitur. Pemanfaatan data alternatif serta sistem peringatan dini juga dinilai dapat membantu mendeteksi potensi gagal bayar lebih cepat.

Heru menegaskan teknologi tidak semestinya hanya digunakan untuk mempercepat persetujuan kredit. Ia mengatakan teknologi juga perlu diarahkan untuk meningkatkan kualitas keputusan pembiayaan di tengah naiknya risiko kredit pada segmen BNPL.

Risk and Governance Summit (RGS) 2026 yang disiapkan OJK menyoroti penguatan governance, risk, and compliance (GRC) di industri jasa keuangan Indonesia, dengan fokus pada transparansi, etika, dan tata kelola. Kami sebelumnya menulis bahwa OJK juga akan menghimpun masukan peserta untuk mengevaluasi penguatan regulasi dan implementasi tata kelola, termasuk agenda terkait pencegahan fraud, AML/CFT, dan ketahanan siber. Kerangka GRC ini menjadi konteks penting saat risiko pada layanan pembiayaan digital seperti BNPL ikut meningkat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.