Pavlo Kot

Kredit properti Indonesia tetap tumbuh dua digit pada September 2026

Kredit properti Indonesia tetap tumbuh dua digit pada September 2026
Kredit properti tetap tumbuh

Penyaluran kredit ke sektor properti di Indonesia masih mencatat pertumbuhan tahunan dua digit pada kuartal III-2026, meski lajunya melambat dibanding bulan sebelumnya. Perkembangan ini berlangsung seiring perlambatan kredit perbankan secara umum, sementara segmen KPR dan KPA justru sedikit menguat di tengah pelemahan kredit konsumer lain.

Sorotan

  • Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia melambat ke 12,7% tahunan menjadi Rp 9.078,2 triliun pada September 2026, dari 13,3% pada Agustus 2026.
  • Kredit properti tumbuh 16,4% menjadi Rp 1.703,7 triliun per September 2026, didukung kredit real estate 15,5% dan konstruksi 42,3%, keduanya melambat dari bulan sebelumnya.
  • Kredit kendaraan bermotor terkontraksi 9,7% menjadi Rp 127,1 triliun, sementara pertumbuhan kredit konsumer lain melambat ke 4,7%, menandakan permintaan kuat hanya pada segmen perumahan.

Perlambatan kredit properti pada September 2026

Menurut Kontan, mengutip Bank Indonesia, kantor berita ini merujuk pada laporan analisis uang beredar Bank Indonesia yang menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan melambat menjadi 12,7% secara tahunan menjadi Rp 9.078,2 triliun pada September 2026, dari 13,3% pada Agustus 2026.

Di tengah tren itu, kredit properti tumbuh 16,4% secara tahunan menjadi Rp 1.703,7 triliun per September 2026, lebih rendah dibanding pertumbuhan 18,3% pada bulan sebelumnya. Dua penopang utama sektor ini sama-sama melambat, yakni kredit real estate yang tumbuh 15,5% menjadi Rp 283,4 triliun dari 16%, serta kredit konstruksi yang tumbuh 42,3% menjadi Rp 557,2 triliun dari 49,5% pada Agustus 2026.

Sementara itu, kredit pemilikan rumah dan kredit pemilikan apartemen tumbuh 4,3% secara tahunan menjadi Rp 863,1 triliun. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan 4,2% pada bulan sebelumnya.

Kesenjangan dengan kredit konsumer lain

Pertumbuhan KPR dan KPA pada September 2026 bergerak berbeda dari tren kredit konsumer secara umum. Secara keseluruhan, kredit konsumer hanya tumbuh 4,7% secara tahunan menjadi Rp 2.415,9 triliun, melambat dari 5% pada Agustus 2026.

Jika dirinci, kredit multiguna tumbuh 6,5% menjadi Rp 1.426,7 triliun, turun dari pertumbuhan 7,2% pada bulan sebelumnya. Di saat yang sama, kredit kendaraan bermotor masih mencatat kontraksi 9,7% secara tahunan menjadi Rp 127,1 triliun, setelah sebelumnya juga terkoreksi 10,3%, menunjukkan permintaan di sebagian besar pembiayaan konsumer masih lemah dibanding pembiayaan perumahan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang meningkatnya klaim asuransi properti akibat bencana alam sepanjang 2026, kami mencatat lonjakan klaim pada semester I-2026 seiring tingginya jumlah kejadian bencana dan kerusakan rumah. Kami juga menyoroti dampaknya terhadap industri asuransi, mulai dari pengetatan seleksi risiko dan penyesuaian premi di wilayah rawan hingga tekanan premi yang masih melemah meski kebutuhan perlindungan meningkat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.