Indonesia dorong pendekatan preventif untuk menekan beban pembiayaan kesehatan

Indonesia dorong pendekatan preventif untuk menekan beban pembiayaan kesehatan
Kesehatan preventif Indonesia

Pemerintah Indonesia menilai kapasitas layanan kesehatan nasional tidak akan mampu menopang kebutuhan 280 juta penduduk bila sistem tetap bertumpu pada pengobatan kuratif. Perubahan ke pendekatan promotif dan preventif disebut menjadi dasar pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis untuk menahan kenaikan beban biaya kesehatan.

Sorotan

  • Pemerintah Indonesia mengubah pendekatan layanan kesehatan nasional dari kuratif ke promotif-preventif untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan.
  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti program Cek Kesehatan Gratis sebagai strategi menekan beban fiskal melalui upaya pencegahan penyakit.
  • Belanja kesehatan per kapita Indonesia hanya $130 per tahun dengan usia harapan hidup 74 tahun, jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Perubahan strategi layanan kesehatan nasional

Seperti dilaporkan Kompas.com, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah mengubah pendekatan kesehatan dari kuratif ke promotif preventif karena model lama dinilai tidak berkelanjutan untuk membiayai layanan bagi seluruh penduduk Indonesia. Ia menyampaikan hal itu dalam Kongres Nasional XVI Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia di Kompleks DPR/MPR, Jakarta Pusat, Jumat, 30 Oktober 2026.

Budi mengatakan pendekatan promotif dan preventif menjadi salah satu jalan yang lebih murah, termasuk melalui program Cek Kesehatan Gratis. Menurut dia, bila kebijakan kesehatan tetap berfokus pada pengobatan setelah masyarakat sakit, kemampuan fiskal untuk menopang layanan nasional akan tertekan.

Perbandingan belanja kesehatan dan implikasinya

Budi membandingkan belanja kesehatan per kapita sejumlah negara untuk menunjukkan perbedaan efisiensi antara sistem yang lebih berat ke kuratif dan yang lebih menekankan pencegahan. Ia menyebut belanja kesehatan per kapita di U.S. mencapai 11.900 dolar per tahun dengan usia harapan hidup 79 tahun, sementara Kuba mencatat 1.900 dolar dengan usia harapan hidup yang sama.

Ia juga menyoroti Jepang yang membelanjakan 5.500 dolar per kapita per tahun dengan usia harapan hidup 84 tahun, sedangkan Singapura mencatat 3.300 dolar dengan usia harapan hidup setara. Menurut paparan Budi, Malaysia mengalokasikan 430 dolar per kapita dengan usia harapan hidup 76 tahun, sementara Indonesia baru mencapai 130 dolar per tahun per kapita dengan usia harapan hidup 74 tahun.

Perbandingan itu menggarisbawahi tantangan sektor kesehatan Indonesia, yang masih bekerja dengan tingkat belanja per kapita jauh di bawah negara tetangga. Dalam konteks itu, penekanan pada pencegahan diposisikan sebagai cara untuk memperluas cakupan layanan sekaligus menjaga keberlanjutan pembiayaan kesehatan nasional.

Dalam liputan kami sebelumnya tentang tekanan Transfer ke Daerah (TKD) pada APBN 2027, kami mencatat kenaikan alokasi yang hanya tipis dinilai belum cukup meredakan tekanan fiskal pemerintah daerah yang sangat bergantung pada dana pusat. Artikel itu menyoroti risiko tertahannya layanan publik dan pembangunan infrastruktur—terutama yang bergantung pada DAK fisik—serta dorongan agar daerah mencari sumber pendapatan alternatif ketika ruang anggaran menyempit.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.