BI catat KLM turunkan bunga kredit sektor prioritas

BI catat KLM turunkan bunga kredit sektor prioritas
BI tekan bunga kredit

Bank Indonesia menyatakan asesmen transmisi SBDK hasil RDG Maret 2026 menunjukkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial, atau KLM forward looking, menekan suku bunga kredit di mayoritas sektor prioritas. Di tengah penurunan BI Rate, bank sentral menilai transmisi ke bunga kredit mulai terlihat, meski laju penurunan biaya dana perbankan masih berlangsung bertahap. Kondisi ini terjadi saat kredit bermasalah di sejumlah segmen naik tipis, namun rata-rata rasio NPL masih berada di bawah ambang 5%, kecuali pada segmen UMKM.

Sorotan

  • Suku bunga kredit sektor jasa turun 3 bps ke 7,80% dan konstruksi turun 2 bps ke 6,87%, sementara industri pengolahan naik tipis ke 8,67%.
  • Cost of fund perbankan turun secara gradual: bank BUMN ke 3,16%, BTN ke 2,9%, Bank Mandiri ke 2,15%, BNI ke 2,5%, CIMB Niaga ke 3,28% pada 2025.
  • NPL UMKM naik dari 4,60% ke 4,68% pada Februari 2026, sementara NPL transportasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif naik tipis menjadi 1,66%.

Pergerakan bunga kredit pada sektor prioritas

Sektor jasa, termasuk ekonomi kreatif, mencatat penurunan suku bunga kredit 3 basis poin menjadi 7,80%. Penurunan ini ditopang turunnya bunga kredit pada jasa dunia usaha dan jasa sosial. Pada sektor konstruksi, real estate, dan perumahan, suku bunga juga turun 2 basis poin menjadi 6,87%, didukung penurunan pada sektor pendukung seperti jasa dunia usaha dan jasa lainnya.

Berbeda dari dua kelompok itu, sektor pertanian, industri pengolahan, dan hilirisasi justru mengalami kenaikan tipis dari 8,66% menjadi 8,67%. BI menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi sektor pendukung listrik, gas, dan air. Di luar cakupan KLM, suku bunga kredit sektor non-KLM per Februari tetap tinggi di level 10,69%, tidak berubah dari bulan sebelumnya.

Pada segmen UMKM, suku bunga kredit turun dari 10,57% pada Januari 2026 menjadi 10,55% pada Februari 2026. Sementara itu, suku bunga kredit segmen industri stabil di 8,8% dalam periode yang sama. Data ini menunjukkan transmisi penurunan bunga berlangsung, tetapi belum merata di seluruh kelompok debitur.

Biaya dana bank masih turun perlahan

BI menyebut KLM membantu memperkuat likuiditas dan menekan cost of fund bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Namun, penurunan biaya dana dinilai belum sebanding dengan skala penurunan BI Rate. Dari Juni hingga Desember 2025, cost of fund tertinggi pada bank BUMN turun 0,4% menjadi 3,16%, bank swasta turun 0,18% menjadi 3,40%, BPD turun 0,08% menjadi 4,40%, dan kantor bank asing turun 0,33% menjadi 1,64%.

BTN termasuk bank yang sudah menurunkan biaya dana, antara lain setelah memperoleh penempatan dana SAL pemerintah senilai Rp25 triliun. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengatakan biaya dana BTN terus turun sejak pertengahan 2025 dan perseroan optimistis dapat menjaganya stabil sampai akhir tahun. Dalam materi analyst meeting kuartal IV-2025, BTN mencatat cost of fund 2,9% pada 2025, turun dari 4,1% pada 2024.

Bank Mandiri juga mencatat cost of fund turun menjadi 2,15% pada kuartal IV-2025 dari 2,31% pada kuartal sebelumnya. BNI membukukan penurunan dari 2,9% menjadi 2,5% dalam periode yang sama, sedangkan CIMB Niaga menurunkan biaya dana dari 3,58% pada 2024 menjadi 3,28% pada 2025. BCA menyatakan akan menjaga biaya dana tahun ini sejalan dengan pertumbuhan CASA, yang per Desember 2025 naik 13,1% secara tahunan menjadi Rp1.045 triliun atau 84,6% dari total DPK.

Dampak terhadap kredit dan risiko perbankan

Perbaikan transmisi suku bunga terjadi bersamaan dengan kenaikan tipis rasio kredit bermasalah di beberapa segmen. NPL UMKM naik menjadi 4,68% pada Februari 2026 dari 4,60% sebulan sebelumnya. NPL sektor transportasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif juga naik tipis dari 1,65% menjadi 1,66%.

Meski demikian, posisi NPL rata-rata masih berada jauh di bawah ambang risiko 5%, sehingga ruang penyaluran kredit tetap terbuka. Ringkasan berita terkait dalam artikel juga menunjukkan pelaku industri melihat penurunan BI Rate berpotensi menopang pertumbuhan kredit perbankan. Tantangan utama bagi industri kini adalah mempercepat penurunan biaya dana agar transmisi ke bunga kredit menjadi lebih kuat pada 2026.

Bagi sektor perbankan Indonesia, efektivitas KLM menjadi penting karena memberi insentif likuiditas pada penyaluran kredit ke sektor prioritas sambil menjaga kualitas aset. Jika biaya dana terus turun dan likuiditas tetap longgar, bank memiliki ruang lebih besar untuk menurunkan bunga kredit secara lebih luas. Hal itu dapat mendukung pembiayaan UMKM, jasa, konstruksi, dan sektor prioritas lain di tengah perlambatan penurunan bunga yang masih berlangsung.

Kami sebelumnya melaporkan perlambatan pertumbuhan kredit perbankan pada Februari 2026, yang turun menjadi 9,37% (yoy) dari 9,96% pada Januari, dengan pelemahan terjadi di seluruh segmen penggunaan. Dalam laporan itu, BI tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 8%–12% dengan dukungan likuiditas yang masih kuat, meski permintaan belum pulih penuh dan bank cenderung lebih berhati-hati terhadap risiko.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.