Otoritas Jasa Keuangan menyatakan target penambahan bank di kelompok bank berdasarkan modal inti 4 tetap berjalan pada 2026, meski industri perbankan menghadapi ketidakpastian global. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan regulator kini mencermati bank-bank KBMI 3 dengan modal inti yang mendekati ambang minimum Rp 70 triliun. Menurut OJK, kenaikan kelas ini dapat memperkuat keberlanjutan usaha bank dan mendukung dorongan pembiayaan bagi perekonomian.
Sorotan
- OJK menargetkan dua hingga tiga bank KBMI 3 dengan modal inti Rp 14 triliun–Rp 70 triliun naik ke KBMI 4 pada 2024.
- Lima bank KBMI 3 dengan modal inti terbesar—Panin Bank, CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Syariah Indonesia, dan Bank BTPN—belum agresif mengejar kenaikan kelas.
- Beberapa bank menekankan penguatan modal akan disesuaikan dengan efisiensi bisnis dan profitabilitas, bukan sekadar mengejar status KBMI 4.
Target kenaikan kelas bank pada 2026
OJK menargetkan dua atau tiga bank dari kelompok KBMI 3 dapat naik ke KBMI 4 pada tahun ini. Regulator sebelumnya juga menetapkan sasaran enam bank naik kelas dalam dua tahun, dan menurut Dian target itu tidak berubah. Fokus pengawasan diarahkan pada bank-bank yang modal intinya sudah mendekati batas minimum KBMI 4. Hingga akhir tahun lalu, terdapat 13 bank di KBMI 3 dengan modal inti pada kisaran Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun.
Kandidat kuat masih menahan target agresif
Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan, lima bank KBMI 3 dengan modal inti terbesar adalah Panin Bank, CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Syariah Indonesia, dan Bank BTPN. Meski termasuk kandidat kuat, CIMB Niaga menyatakan tidak memasang target khusus untuk segera naik kelas dan memilih fokus memperluas layanan kepada nasabah di Indonesia. Bank Syariah Indonesia menyebut aspirasi menjadi KBMI 4 tetap ada, namun prosesnya dinilai membutuhkan waktu dan penguatan modal serta kinerja secara bertahap. BTN juga belum menargetkan kenaikan kelas dalam waktu dekat dan memilih menjaga return on equity agar tetap menarik bagi investor.Dampak bagi strategi permodalan industri
Sejumlah bank menegaskan bahwa penguatan modal tidak selalu dilakukan secara agresif jika belum sejalan dengan efisiensi bisnis dan imbal hasil. BTN menilai struktur bisnis pembiayaan perumahan membuat kebutuhan modal relatif lebih efisien karena bobot aset tertimbang menurut risiko untuk KPR subsidi berada di kisaran 20%. Permata Bank juga menyatakan lebih memilih menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat agar modal bertambah secara alami. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ambisi masuk KBMI 4 tetap ada di industri, namun pelaksanaannya sangat bergantung pada strategi permodalan, profitabilitas, dan profil risiko masing-masing bank.Kami sebelumnya melaporkan penjelasan OJK bahwa revisi outlook negatif pada sejumlah bank besar Indonesia terutama mengikuti perubahan outlook kredit sovereign Indonesia, bukan karena pelemahan kinerja industri. Dalam laporan itu, OJK menekankan fundamental perbankan masih kuat—ditopang pertumbuhan kredit dan DPK, likuiditas longgar, serta rasio permodalan yang tinggi—sehingga dampaknya lebih banyak pada persepsi pasar ketimbang kemampuan operasional bank.
Berita Mergers Terbaru
- Forex
- Crypto