Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko menunjukkan kepemilikan perbankan pada surat berharga negara mencapai Rp 1.384 triliun per 26 Maret 2026, naik dari Rp 1.121 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah tren industri yang meningkat itu, PT Allo Bank Indonesia Tbk justru menurunkan aset surat berharganya 70,37% secara tahunan menjadi Rp 1,35 triliun per Februari 2026. Langkah ini mencerminkan sikap lebih defensif bank terhadap tekanan inflasi, gejolak harga energi, dan ketidakpastian pasar global.
Sorotan
- Allo Bank mengurangi eksposur SBN, berbeda dengan tren perbankan nasional yang meningkatkan kepemilikan surat berharga negara selama setahun terakhir.
- Lonjakan harga minyak Brent hingga U.S.$112 per barel dan tekanan musiman meningkatkan risiko inflasi dan defisit, mendorong Allo Bank prioritaskan stabilitas likuiditas.
- Jika tekanan inflasi dan risiko eksternal berlanjut, permintaan perbankan Indonesia terhadap SBN berpotensi menjadi lebih selektif, memengaruhi pasar surat utang pemerintah.
Strategi likuiditas di tengah tekanan inflasi
Treasure Head Allo Bank Indonesia, Bagus Razy Syabandita Hakim, mengatakan penempatan dana di SBN saat ini bukan menjadi prioritas perseroan. Menurut dia, ketidakpastian global, terutama tensi geopolitik yang memengaruhi harga minyak dan jalur distribusi, meningkatkan risiko pada instrumen tersebut. Allo Bank karena itu memilih menjaga stabilitas likuiditas sambil mengantisipasi potensi eskalasi risiko dalam waktu dekat.
Ia menyebut harga minyak dunia yang melonjak, dengan Brent sempat menyentuh U.S.$112 per barel, berpotensi mendorong inflasi ke depan. Di dalam negeri, bank juga mencermati defisit anggaran, dinamika pasar modal yang tercermin dari MSCI, serta penurunan peringkat investasi. Faktor musiman seperti tahun baru, Imlek, Ramadan, dan Lebaran ikut menambah tekanan inflasi, terutama ketika dibarengi kenaikan harga energi.
Dampak pada portofolio dan tren perbankan nasional
Penurunan aset surat berharga Allo Bank menandai perbedaan strategi dibandingkan mayoritas industri perbankan. Saat perbankan nasional meningkatkan kepemilikan SBN dalam setahun terakhir, Allo Bank memilih mengurangi eksposur untuk menekan risiko pasar dan menjaga fleksibilitas pendanaan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa manajemen memprioritaskan kehati-hatian dibanding mengejar imbal hasil obligasi dalam kondisi pasar yang bergejolak.
Bagi sektor perbankan Indonesia, keputusan seperti ini mencerminkan bagaimana lonjakan harga energi global dapat memengaruhi alokasi aset bank domestik. Jika tekanan inflasi dan risiko eksternal bertahan, permintaan bank terhadap SBN bisa menjadi lebih selektif meski instrumen tersebut tetap penting bagi pengelolaan likuiditas. Kondisi itu juga dapat memengaruhi dinamika permintaan surat utang pemerintah dari kelompok investor perbankan.
Sebelumnya, kami melaporkan soal potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi per 1 April 2026 seiring lonjakan harga minyak dunia yang menembus area USD116 per barel di tengah memanasnya tensi geopolitik. Dalam laporan tersebut, penyesuaian diproyeksikan terutama berlaku untuk produk nonsubsidi, sementara pemerintah menegaskan BBM subsidi tetap dipertahankan dan kepastian harga masih menunggu klarifikasi resmi.
- Forex
- Crypto