Pertamina Drilling targetkan kenaikan produksi Prabumulih lewat layanan non-rig 65 BOPD
Upaya peningkatan produksi migas domestik kini meluas ke optimalisasi sumur eksisting di Lapangan Prabumulih, Sumatera Selatan. PT Pertamina Drilling Services Indonesia menerapkan High Pressure Pumping Non-Rig Services untuk pertama kalinya di Sumur Gunung Kemala-104 dengan sasaran produksi mencapai 65 barel minyak per hari.
Sorotan
- PT Pertamina Drilling Services Indonesia menerapkan High Pressure Pumping Non-Rig Services melalui matrix acidizing di Sumur Gunung Kemala (GNK)-104, Lapangan Prabumulih.
- Target operasi bersama PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 ini ialah menaikkan produksi sumur hingga 65 BOPD dengan mengatasi hambatan formasi dan endapan.
- Penerapan perdana non-rig services menjadi strategi perusahaan memperluas portofolio jasa hulu migas nasional dan memberi nilai tambah pelanggan.
Penerapan teknologi dan target produksi
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, PT Pertamina Drilling Services Indonesia mulai menerapkan High Pressure Pumping Non-Rig Services melalui operasi matrix acidizing di Sumur Gunung Kemala (GNK)-104, Lapangan Prabumulih. Langkah ini menjadi perluasan layanan hulu migas perseroan, dari yang sebelumnya berfokus pada jasa pengeboran menjadi juga mencakup solusi untuk mengoptimalkan produksi dari sumur yang sudah ada.Operasi tersebut dijalankan bersama PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4. Tujuannya adalah mengatasi hambatan di area sekitar sumur akibat kerusakan formasi maupun endapan yang dapat menekan aliran fluida dari reservoir, sehingga aliran minyak ke sumur diharapkan kembali lebih optimal.
Dampak bagi bisnis hulu migas
Target dari operasi ini adalah meningkatkan kinerja sumur hingga mencapai produksi 65 BOPD. Penerapan perdana layanan non-rig itu juga menandai strategi Pertamina Drilling untuk memperkuat portofolio jasa di segmen hulu migas nasional.Direktur Operasi Pertamina Drilling Aziz Muslim mengatakan keberhasilan pelaksanaan matrix acidizing perdana ini menunjukkan kesiapan perusahaan dalam menghadirkan layanan hulu migas yang lebih terintegrasi dan memberi nilai tambah bagi pelanggan. Menurut dia, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menyediakan solusi yang aman, andal, dan berbasis teknologi guna membantu peningkatan produktivitas lapangan migas sekaligus mendukung target produksi nasional.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penerapan program mandatori biodiesel B50, kami mengulas jadwal implementasi bertahap yang dimulai 1 Juli 2026 hingga rencana perluasan distribusi ke seluruh SPBU pada 1 Oktober 2026. Kebijakan ini diproyeksikan menekan impor BBM—khususnya solar—menghemat devisa, serta memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan pemanfaatan bahan bakar berbasis minyak nabati.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto