Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia yang dikutip pada Rabu, PT Bank Negara Indonesia Tbk menyiapkan penerbitan instrumen Additional Tier 1, AT1, baru di pasar internasional sambil menawarkan pembelian kembali AT1 yang terbit pada 2021. Perseroan menyatakan langkah ini ditujukan untuk memperkuat rasio permodalan dan menata struktur modal agar mendukung ekspansi usaha. Realisasi kedua aksi tersebut masih bergantung pada kondisi pasar.
Sorotan
- BNI akan membuka masa partisipasi tender offer atas AT1 lama pada 14–22 April 2026 dengan penyelesaian transaksi pada 24 April 2026.
- AT1 baru direncanakan diterbitkan di luar Indonesia, dicatatkan di Singapore Exchange, dan tidak ditawarkan kepada investor domestik.
- Langkah penerbitan AT1 baru dan tender offer instrumen lama diharapkan memperkuat struktur permodalan serta membuka ruang ekspansi bisnis BNI ke depan.
Jadwal tender offer dan rencana pencatatan
Masa partisipasi tender offer berlangsung sejak 14 April 2026 hingga 22 April 2026. Penyelesaian transaksi, settlement, direncanakan pada 24 April 2026. Dalam keterbukaan informasi itu, BNI juga menyampaikan bahwa AT1 baru akan diterbitkan di luar wilayah Indonesia dan tidak ditawarkan kepada investor domestik.
Instrumen AT1 baru tersebut direncanakan tercatat di Singapore Exchange. Perseroan menjalankan penerbitan baru dan pembelian kembali instrumen lama secara bersamaan sebagai bagian dari optimalisasi struktur permodalan. Manajemen menegaskan pelaksanaan akhirnya tetap menyesuaikan perkembangan pasar internasional.
Dampak bagi permodalan dan ekspansi bisnis
AT1 merupakan surat berharga subordinasi yang dapat diperhitungkan sebagai modal inti tambahan bank. Karena karakteristik itu, instrumen ini lazim digunakan industri perbankan untuk memperkuat struktur permodalan tanpa langsung menambah modal saham. Bagi BNI, kombinasi penerbitan AT1 baru dan tender offer atas instrumen lama diharapkan memberi dampak positif terhadap fondasi permodalan perseroan.
Dengan struktur modal yang lebih optimal, bank berpeluang menjaga ruang ekspansi bisnis di tengah kebutuhan pendanaan yang terus berkembang. Langkah ini juga menunjukkan upaya emiten berkode BBNI tersebut dalam mengelola instrumen modal secara aktif melalui pasar internasional. Bagi sektor perbankan Indonesia, aksi korporasi semacam ini mencerminkan penggunaan instrumen hibrida untuk menjaga fleksibilitas permodalan.
Kami sebelumnya melaporkan pelemahan saham bank-bank besar pada perdagangan Rabu yang terjadi setelah Bank Indonesia mempertahankan BI Rate, ketika aksi jual asing kembali mendominasi emiten perbankan utama. Dalam laporan itu, pelemahan rupiah dan sentimen global disebut menjadi faktor yang menjaga volatilitas tinggi, sementara stabilisasi rupiah dinilai berpotensi meredakan net sell dan membuka ruang pemulihan harga.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto