PLN perluas pasokan listrik hijau untuk operasi tambang di Indonesia

PLN perluas pasokan listrik hijau untuk operasi tambang di Indonesia
PLN perluas listrik hijau tambang

Elektrifikasi operasional tambang menjadi fokus baru dalam upaya menekan emisi sektor mineral dan batu bara di Indonesia. PT PLN (Persero) memperkuat langkah itu melalui serangkaian perjanjian pasokan listrik dan kerja sama solusi terintegrasi dengan sejumlah perusahaan tambang.

Sorotan

  • PLN menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dengan total alokasi daya tambang 326 MVA mencakup enam perusahaan tambang besar di Indonesia.
  • PLN dan anak usahanya bekerjasama dengan beberapa perusahaan tambang untuk pembangunan instalasi, gardu pelanggan, dan desain engineering tegangan tinggi guna mendukung elektrifikasi tambang.
  • Elektrifikasi peralatan tambang dengan suplai listrik PLN diharapkan menekan emisi dan mendorong efisiensi operasi, mendukung target Net Zero Emissions Indonesia pada 2060.

Kontrak pasokan dan proyek elektrifikasi tambang

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, PLN menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dan Memorandum of Understanding Integrated Bussiness Solution untuk mendorong penggunaan listrik yang lebih bersih, efisien, dan andal di area pertambangan. Langkah ini diarahkan untuk mendukung elektrifikasi alat berat serta transformasi operasional perusahaan batu bara.

Kerja sama PJBTL tersebut mencakup pasokan 30 MVA untuk PT Trubaindo Coal Mining, 55 MVA untuk PT Sembada Makmur Sejahtera, 35 MVA untuk PT Marga Bara Jaya, 71 MVA untuk PT Maruwai Coal, 106 MVA untuk PT Makmur Sejahtera Wisesa, dan 29 MVA untuk PT Berau Coal. Untuk Integrated Bussiness Solution, PLN melalui anak usahanya juga berkolaborasi dengan PT Masmindo Dwi Area untuk pembangunan instalasi dan gardu pelanggan, PT Maruwai Coal untuk pembangunan instalasi milik pelanggan, serta PT Sembada Makmur Sejahtera untuk engineering design dan pembangunan instalasi tegangan tinggi.

Dampak bagi dekarbonisasi sektor pertambangan

Kolaborasi tersebut menjadi langkah konkret PLN dalam mendukung penerapan green mining di sektor tambang nasional. Pemanfaatan listrik menggantikan sebagian penggunaan energi konvensional diharapkan membantu menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di lokasi tambang.

Koordinator Konservasi dan Mineral Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ari Hendrawanto, menjelaskan bahwa elektrifikasi alat berat menjadi kunci utama untuk mereduksi emisi di wilayah operasional tambang. Menurut dia, langkah itu krusial mengingat Indonesia menargetkan Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang penguatan keuangan berkelanjutan BRI, bank ini menegaskan integrasi ESG sebagai strategi jangka panjang, termasuk penyaluran pembiayaan hijau Rp 93,2 triliun hingga akhir 2025. BRI juga menerbitkan social bond Rp 5 triliun serta melakukan climate risk stress testing untuk memperkuat manajemen risiko iklim dan mendukung pertumbuhan yang berdampak sosial-lingkungan. Sorotan tersebut menambah konteks bagaimana dukungan pendanaan dan tata kelola keberlanjutan ikut mempercepat agenda dekarbonisasi di sektor riil.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.