Multifinance diperkirakan lebih selektif menerbitkan surat utang di tengah kenaikan yield obligasi

Multifinance diperkirakan lebih selektif menerbitkan surat utang di tengah kenaikan yield obligasi
Multifinance selektif terbitkan utang

Kenaikan yield obligasi dan memudarnya prospek pemangkasan suku bunga mendorong perusahaan multifinance menata ulang strategi pendanaan pada 2026. Di tengah kebutuhan likuiditas yang tetap tinggi, ruang ekspansi pembiayaan masih terbatas sehingga penerbitan surat utang diperkirakan lebih terfokus pada refinancing dan pengelolaan jatuh tempo.

Sorotan

  • Piutang pembiayaan multifinance per Februari 2026 tumbuh 1,01% yoy menjadi Rp 512,14 triliun, di bawah target OJK sebesar 6%–8%.
  • Surat utang multifinance jatuh tempo pada 2026 sebesar Rp 33,93 triliun, mewakili sekitar 88,86% dari total penerbitan 2025 sebesar Rp 38,18 triliun.
  • Penerbitan obligasi multifinance diperkirakan lebih selektif dan dominan untuk refinancing karena yield tinggi dan permintaan investor tenor panjang melemah.

Prospek penerbitan dan tekanan biaya dana

Seperti dilaporkan KONTAN, Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin menilai kondisi pasar saat ini membuat penerbitan surat utang multifinance menjadi lebih selektif pada 2026. Ia mengatakan sektor multifinance tetap membutuhkan pendanaan, tetapi ruang ekspansi belum sepenuhnya kuat.

Menurut Ahmad, hal itu tercermin dari piutang pembiayaan multifinance per Februari 2026 yang tumbuh 1,01% secara year on year menjadi Rp 512,14 triliun. Meski Otoritas Jasa Keuangan menargetkan pertumbuhan 6% hingga 8% secara year on year pada 2026, tekanan biaya dana membuat pelaku industri cenderung lebih berhati-hati saat masuk ke pasar obligasi.

Ia menjelaskan yield pemerintah yang lebih tinggi ikut menaikkan acuan penetapan harga obligasi multifinance. Dalam kondisi tersebut, investor juga berpotensi meminta kupon lebih tinggi, terutama untuk tenor menengah dan panjang, sehingga perusahaan kemungkinan memilih penerbitan bertahap, tenor lebih pendek, atau menunggu permintaan investor membaik.

Refinancing diperkirakan tetap dominan

Ahmad memperkirakan penerbitan untuk tujuan refinancing masih menjadi motif utama pada tahun ini. Surat utang multifinance yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp 33,93 triliun, setara sekitar 88,86% dari total penerbitan multifinance sepanjang 2025 yang sebesar Rp 38,18 triliun.

Pada kuartal I-2026, jatuh tempo sektor multifinance tercatat Rp 9,18 triliun, sementara penerbitan baru telah mencapai Rp 11,90 triliun. Rasio tersebut menunjukkan penerbitan pada awal tahun lebih banyak digunakan untuk menjaga likuiditas dan mengganti utang yang jatuh tempo, bukan untuk ekspansi agresif.

Dengan kondisi itu, ekspansi pembiayaan dinilai masih tetap ada, tetapi berjalan secara selektif mengikuti kualitas permintaan pembiayaan dan perkembangan biaya dana di pasar. Bagi industri multifinance, arah yield dan minat investor akan menjadi faktor penentu waktu serta struktur penerbitan surat utang berikutnya.

Penerbitan surat utang multifinance pada kuartal I-2026 tercatat mencapai Rp 11,90 triliun, naik 42,7% dibanding kuartal I-2025, seiring kebutuhan pendanaan ulang yang mendorong emiten masuk lebih awal ke pasar. Dalam artikel kami sebelumnya, besarnya jatuh tempo sepanjang 2026 yang mencapai Rp 33,93 triliun—dengan puncak beban pada kuartal III—diproyeksikan akan menjaga aktivitas penerbitan tetap aktif hingga akhir tahun.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.