Pasar Santa kehilangan daya saing di tengah tekanan sewa dan konsumsi kelas menengah Jakarta
Perubahan pola belanja dan ruang nongkrong di Jakarta Selatan kini menekan posisi Pasar Santa sebagai destinasi kreatif yang pernah menonjol pada pertengahan 2010-an. Kenaikan biaya sewa dan melemahnya daya beli kelas menengah disebut mempercepat pudarnya keunikan pasar tersebut di tengah persaingan kawasan yang lebih terintegrasi.
Sorotan
- Pasar Santa kehilangan pengunjung dan posisi unik sejak 2014 karena tekanan kenaikan sewa, membuat tenant kreatif kecil sulit bertahan.
- Data BPS dan IMF menunjukkan kelas menengah Indonesia yang menyumbang 81,49 persen konsumsi menurun sejak 2019, mendorong perilaku konsumsi yang makin value-oriented.
- Pasar Santa kalah bersaing akibat tidak adanya dukungan ekosistem terintegrasi seperti Blok M yang didukung kebijakan publik, transportasi, dan ruang kreatif baru yang lebih terkurasi.
Tekanan biaya dan perubahan konsumsi
Seperti dilaporkan Kompas.com, peneliti ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menilai Pasar Santa tidak hanya kehilangan pengunjung, tetapi juga kehilangan posisi uniknya dalam peta ruang urban Jakarta. Ia mengatakan masa puncak Pasar Santa terjadi sekitar 2014, saat komunitas kopi, vinyl, buku, dan pelaku usaha kreatif mengubah pasar itu menjadi ruang nongkrong sekaligus ruang komunitas.Menurut Adrian, popularitas tersebut kemudian memicu tekanan baru karena harga sewa ikut naik. Kondisi itu membuat banyak tenant kecil yang sebelumnya menjadi bagian penting dari ekosistem kreatif mulai kesulitan bertahan.
Ia juga menyoroti persoalan yang lebih struktural, yakni perubahan daya beli kelas menengah. Adrian mengatakan data BPS menunjukkan kelas menengah dan menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk dan menyumbang 81,49 persen konsumsi masyarakat, sementara IMF mencatat pangsa kelas menengah di Indonesia menurun sejak 2019.
Dalam pandangannya, perilaku konsumsi masyarakat kini makin menekankan efisiensi pengalaman dan nilai guna. Konsumen masih berbelanja dan berkumpul, tetapi menjadi lebih selektif dan lebih sensitif terhadap value for money, sehingga ruang yang tidak lagi menawarkan pembeda yang kuat makin sulit mempertahankan arus pengunjung.
Persaingan kawasan terintegrasi di Jakarta Selatan
Adrian menilai pergeseran itu membuat Pasar Santa makin sulit bersaing dengan kawasan yang lebih terintegrasi seperti Blok M. Kawasan tersebut, katanya, kini berfungsi sebagai ekosistem yang menghubungkan berbagai simpul aktivitas seperti M Bloc Space, Blok M Hub, Blok M Plaza, dan Taman Literasi secara spasial dan fungsional.Ia menyebut kondisi itu sebagai ekonomi aglomerasi, ketika konsentrasi pelaku usaha dalam satu kawasan menciptakan efisiensi dan daya tarik yang lebih besar. Efek berantainya terlihat pada arus pengunjung yang lebih kuat dan durasi kunjungan yang lebih panjang.
Menurut Adrian, keberhasilan Blok M juga ditopang integrasi kebijakan dan infrastruktur publik, termasuk revitalisasi Blok M Hub, pengembangan Taman Literasi, dan konektivitas transportasi. Dalam konteks itu, Pasar Santa dinilai tidak memiliki dukungan ekosistem yang setara.
Ia menambahkan Pasar Santa kini menghadapi hilangnya diferensiasi ruang ketika berbagai ruang kreatif baru muncul dengan konsep yang lebih terkurasi dan terintegrasi. Di saat yang sama, generasi muda disebut tidak lagi hanya mencari tempat berkumpul, tetapi juga ruang yang menawarkan identitas dan pengalaman sosial yang jelas.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi Manulife Indonesia menggarap segmen kelas menengah, kami menyoroti bahwa konsumen semakin selektif memilih proteksi kesehatan dan keuangan di tengah tekanan ekonomi. Manulife merespons tren ini dengan memperkuat distribusi, memperluas layanan digital seperti MiEClaim dan Manulife ID, serta mendorong literasi keuangan agar produk yang fleksibel dan terjangkau tetap relevan bagi kebutuhan kelas menengah.
Berita HonorFX Terbaru
- Forex
- Crypto