Perbankan Indonesia menahan penurunan bunga kredit, pertumbuhan kredit berisiko terganggu
Pelonggaran suku bunga acuan belum sepenuhnya mengalir ke biaya pinjaman bank di Indonesia, meski BI rate sudah turun 125 basis poin sejak awal tahun lalu dan kini bertahan di 4,25% pada April 2026. Kesenjangan transmisi ini membuat biaya pinjaman tetap relatif tinggi bagi pelaku usaha dan berpotensi menahan permintaan kredit, terutama pada segmen yang lebih rentan terhadap risiko.
Sorotan
- Per Maret 2026, suku bunga kredit baru di Indonesia hanya turun 44 basis poin sejak Januari 2025, menandakan transmisi penurunan BI rate masih terbatas.
- Pertumbuhan kredit diproyeksikan berisiko melambat ke batas bawah 8% karena biaya pinjaman masih tinggi dan transmisi bunga tersumbat, khususnya berdampak pada UMKM dan kredit konsumtif.
- Kredit BCA tumbuh 5,6% secara tahunan menjadi Rp994 triliun pada kuartal I-2026, didukung LAR 5,1% dan NPL 1,8%, sementara penurunan SBDK BCA dan KB Bank tertekan tingginya biaya dana.
Transmisi bunga masih tertahan di tengah biaya dana tinggi
KONTAN Indonesia melaporkan, hingga Maret 2026 suku bunga kredit baru turun 44 basis poin sejak Januari 2025, menunjukkan transmisi penurunan suku bunga acuan masih terbatas di industri perbankan.
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan perbankan kerap menjadi mata rantai yang paling lambat merespons penurunan suku bunga acuan karena ada jeda waktu antara penurunan bunga dan jatuh tempo deposito lama. Selain itu, bank juga tetap memperhitungkan risiko debitur, termasuk ketidakpastian ekonomi global dan domestik, sehingga premi risiko masih dijaga tinggi.
Menurut Rahma, keterbatasan transmisi biasanya paling terasa pada sektor yang lebih rentan seperti UMKM dan kredit konsumtif. Ia menilai bank juga cenderung menahan bunga kredit untuk menjaga margin keuntungan karena biaya operasional perbankan domestik masih relatif tinggi dibandingkan negara tetangga.
Dampak ke penyaluran kredit dan strategi bank
Rahma menilai kondisi transmission lag dapat mempengaruhi penyaluran kredit karena nasabah korporasi bisa mengambil sikap wait and see atau beralih ke sumber pendanaan lain seperti obligasi. Jika transmisi tetap tersumbat, pertumbuhan kredit berisiko melambat ke batas bawah 8% karena biaya pinjaman masih dinilai mahal oleh pelaku usaha.BCA tercatat memiliki suku bunga dasar kredit di kisaran 6,85% sampai 8,89% pada akhir Maret 2026, turun dari 7,84% sampai 9,47% pada periode yang sama tahun sebelumnya. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Heryn mengatakan perseroan menetapkan kebijakan suku bunga dengan mencermati parameter makroekonomi, kondisi likuiditas perbankan, serta situasi pasar dari sisi permintaan dan penawaran; hingga kuartal I-2026, kredit BCA tumbuh 5,6% secara tahunan menjadi Rp994 triliun, dengan LAR 5,1% dan NPL 1,8%.
KB Bank juga hanya menurunkan SBDK ke kisaran 9,17% sampai 9,72% per April 2026 dari 9,5% sampai 10% pada tahun sebelumnya. Presiden Direktur KB Bank mengatakan tren itu terutama dipengaruhi biaya dana yang masih relatif tinggi, khususnya dari special rate deposan besar, meski likuiditas bank dinilai tetap solid dan bank menargetkan penurunan bunga kredit secara bertahap terutama pada segmen korporasi dan ritel yang lebih sensitif terhadap biaya dana.
Allo Bank menyampaikan penyesuaian pricing internal sudah dilakukan bertahap sejak tahun lalu, tetapi ruang penurunan tetap terbatas karena komposisi dana pihak ketiga masih didominasi deposito. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan bank perlu menjaga net interest margin tetap sehat, sementara portofolio kreditnya yang didominasi kredit ritel digital seperti PayLater dan pinjaman konsumsi jangka pendek juga membawa komponen premi risiko yang lebih tinggi.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada Maret 2026, kami mencatat penyaluran kredit kembali menguat 9,49% secara tahunan, terutama ditopang kredit investasi dan ekspansi segmen korporasi. Kami juga menyoroti bagaimana bank-bank besar menjaga pertumbuhan di tengah risiko global, serta peran kebijakan Bank Indonesia—termasuk insentif likuiditas makroprudensial—untuk mendorong kredit ke sektor prioritas sekaligus membuka ruang penurunan suku bunga kredit baru.
- Forex
- Crypto