Gadai ValueMax catat porsi agunan tak ditebus 0,2% per Maret 2026

Gadai ValueMax catat porsi agunan tak ditebus 0,2% per Maret 2026
Agunan tak ditebus minim

PT Gadai ValueMax Indonesia menyatakan porsi barang jaminan yang tidak ditebus nasabah tetap sangat kecil di tengah fokus perseroan pada pembiayaan berbasis gadai. Per Maret 2026, rasio agunan yang tidak ditebus tercatat sekitar 0,2% dari total transaksi, sementara porsi yang berujung ke lelang hanya sekitar 0,05% dari total portofolio.

Sorotan

  • Per Maret 2026, Gadai ValueMax mencatat porsi agunan tak ditebus stabil di 0,2%, sementara angka penebusan tetap di kisaran 20% dari transaksi.
  • Barang agunan yang paling banyak tidak ditebus tetap emas dan perhiasan, sedangkan kendaraan, elektronik, dan barang bermerek berkontribusi lebih kecil.
  • Margin laba terbesar ValueMax berasal dari bisnis pembiayaan berulang, bukan pelepasan agunan, sebab hasil lelang kerap tergerus biaya dan regulasi OJK.

Komposisi agunan dan kebijakan penanganan

Seperti diberitakan KONTAN, Direktur Utama PT Gadai ValueMax Indonesia Brian Wiraatmadja mengatakan tren barang jaminan yang tidak ditebus stabil dibandingkan posisi per Maret 2025. Pada saat yang sama, angka tebus juga menunjukkan tren stabil di kisaran 20% dari seluruh transaksi per Maret 2026, sementara sisanya berasal dari perpanjangan dan gadai baru.

Brian menjelaskan jenis barang yang paling dominan tidak ditebus tetap emas dan perhiasan karena keduanya merupakan portofolio terbesar perseroan. Selain itu, terdapat pula barang jaminan berupa kendaraan, elektronik, dan barang bermerek, tetapi proporsinya lebih kecil dibandingkan emas.

Ia menegaskan penjualan barang gadai jatuh tempo melalui pihak ketiga dengan persetujuan nasabah atau melalui lelang bukan tujuan utama bisnis perusahaan. Fokus utama Gadai ValueMax tetap pada pembiayaan dan perputaran pinjaman.

Sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan, seluruh kelebihan hasil penjualan dikembalikan sepenuhnya kepada nasabah. Jika dana itu tidak diambil dalam waktu satu tahun, perusahaan menyalurkannya ke yayasan sosial, seperti panti jompo.

Dampak terhadap margin dan model bisnis

Menurut Brian, kondisi margin antara bisnis pembiayaan dan hasil lelang berbeda. Ia mengatakan kelebihan dari penjualan lelang biasanya tidak setinggi yang dibayangkan karena perusahaan juga harus menjaga kewajaran harga jual bagi nasabah serta menutup biaya penyimpanan, asuransi, jasa taksiran, dan proses lelang itu sendiri.

Porsi terbesar margin laba perusahaan, katanya, tetap berasal dari penyaluran pembiayaan yang sehat dan berulang. Karena itu, perusahaan terus mengupayakan agar nasabah dapat menebus kembali barangnya apabila mereka tidak ingin memperpanjang gadai.

Ia menambahkan pengembalian barang kepada nasabah menjadi hasil yang paling baik bagi kedua belah pihak, terutama karena barang jaminan kerap memiliki nilai sentimental bagi pemiliknya. Pendekatan itu juga menegaskan bahwa pelepasan agunan bukan pendorong utama pendapatan perseroan di bisnis pergadaian.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang proyeksi penerbitan surat utang multifinance hingga akhir 2026, kami menyoroti bahwa kebutuhan refinancing masih besar seiring nilai jatuh tempo yang mencapai Rp 33,93 triliun. Kami juga mencatat pasar obligasi dinilai tetap terbuka, tetapi penerbitan cenderung lebih selektif karena emiten mempertimbangkan biaya kupon dan momentum yield, sehingga strategi tenor atau timing penerbitan bisa disesuaikan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.