Pefindo nilai penerbitan surat utang multifinance tetap aktif hingga akhir 2026
Kebutuhan refinancing yang masih besar menjaga ruang penerbitan surat utang oleh perusahaan multifinance sepanjang 2026. Di saat yang sama, nilai jatuh tempo yang mencapai Rp 33,93 triliun tahun ini membuat pelaku industri dinilai tetap perlu masuk ke pasar, meski dengan pendekatan yang lebih selektif.
Sorotan
- Pefindo memproyeksikan penerbitan surat utang multifinance tetap aktif hingga akhir 2026, didorong kebutuhan refinancing dengan jatuh tempo mencapai Rp 33,93 triliun pada 2026.
- Penerbitan surat utang pada kuartal I-2026 mencapai Rp 11,90 triliun, naik 42,7% dari kuartal I-2025, menyumbang 20,1% dari total penerbitan korporasi.
- Pipeline penerbitan dari sektor pembiayaan konsumtif dan otomotif tercatat Rp 11,00 triliun, namun pasar akan semakin selektif dan penerbitan menyesuaikan momentum yield.
Tekanan jatuh tempo dan pipeline penerbitan
Seperti dilaporkan KONTAN, PT Pemeringkat Efek Indonesia, Pefindo, memproyeksikan penerbitan surat utang multifinance berpeluang tetap aktif hingga akhir 2026. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan kondisi itu didorong oleh kebutuhan refinancing yang masih besar di sektor multifinance.Menurut dia, total jatuh tempo surat utang multifinance pada 2026 mencapai Rp 33,93 triliun. Beban terbesar berada pada kuartal III-2026 sebesar Rp 13,68 triliun, disusul kuartal II-2026 sebesar Rp 7,01 triliun, serta kuartal IV-2026 sebesar Rp 4,05 triliun.
Ahmad menyatakan kondisi tersebut memberi alasan kuat bagi perusahaan multifinance untuk tetap masuk pasar. Namun, ia menilai penerbitan kemungkinan tidak akan terlalu agresif untuk ekspansi, karena perusahaan juga mempertimbangkan biaya kupon, kebutuhan refinancing, dan pertumbuhan pembiayaan baru.
Pasar obligasi tetap terbuka, tetapi makin selektif
Ahmad menuturkan pipeline sektor pembiayaan konsumtif hingga otomotif tercatat Rp 11,00 triliun dari enam perusahaan. Angka itu menunjukkan minat penerbitan masih ada, tetapi pasar dinilai akan semakin selektif dan sangat bergantung pada momentum yield.Ia memperkirakan penerbitan multifinance tidak akan sepi, walau belum sepenuhnya ekspansif. Jika yield naik lebih lanjut, perusahaan multifinance dapat memilih tenor lebih pendek, menerbitkan surat utang secara bertahap, atau menunda transaksi sampai pricing menjadi lebih baik.
Sebagai gambaran aktivitas pasar, Pefindo mencatat penerbitan surat utang multifinance pada kuartal I-2026 mencapai Rp 11,90 triliun, naik 42,7% dibandingkan Rp 8,34 triliun pada kuartal I-2025. Dari total penerbitan surat utang korporasi sebesar Rp 59,35 triliun pada kuartal I-2026, multifinance menyumbang sekitar 20,1%, sementara capaian kuartal I-2026 itu juga setara 31,2% dari total penerbitan multifinance sepanjang 2025 sebesar Rp 38,18 triliun.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang transmisi penurunan BI rate ke suku bunga kredit bank, kami menyoroti bahwa penurunan suku bunga acuan belum sepenuhnya menekan biaya pinjaman sehingga bunga kredit baru turun terbatas. Kondisi biaya dana dan premi risiko yang masih tinggi ini berpotensi menahan permintaan kredit, terutama di segmen UMKM dan kredit konsumtif, sekaligus mendorong sebagian pelaku usaha mempertimbangkan pendanaan alternatif seperti obligasi.
Berita Fintech Terbaru
- Forex
- Crypto