Kartu kredit non-bank diproyeksikan tumbuh di tengah tekanan QRIS dan BNPL

Kartu kredit non-bank diproyeksikan tumbuh di tengah tekanan QRIS dan BNPL
Non-bank credit cards rise

Kebutuhan pembiayaan digital masyarakat di Indonesia mendorong prospek pertumbuhan kartu kredit non-bank, meski lajunya diperkirakan tetap terbatas. Produk ini terutama menyasar kelompok unbanked dan underbanked yang tidak harus memiliki saldo maupun tabungan untuk mengakses fasilitas pembiayaan.

Sorotan

  • Kartu kredit non-bank diproyeksikan tetap tumbuh meski lebih lambat daripada layanan pembiayaan digital lain, menurut Nailul Huda dari Center of Economic and Law Studies.
  • Integrasi kartu kredit non-bank dengan QRIS memperkecil perbedaan dengan BNPL, menyesuaikan dengan perubahan preferensi pembayaran konsumen ke QR code.
  • Pendanaan kartu kredit non-bank umumnya berasal dari modal awal dan obligasi, namun diperkirakan akan semakin mengandalkan kerja sama dengan bank digital ke depan.

Prospek pasar dan model bisnis

Kepada KONTAN, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies Nailul Huda mengatakan kartu kredit non-bank masih memiliki ruang pertumbuhan walaupun bergerak lebih lambat dibanding sebagian layanan pembiayaan digital lain.

Ia menilai instrumen ini relevan bagi konsumen yang belum sepenuhnya terlayani perbankan. Menurutnya, kartu kredit non-bank memudahkan kelompok tersebut untuk memperoleh pembiayaan belanja dan kebutuhan lain tanpa persyaratan kepemilikan simpanan seperti pada produk kartu kredit perbankan tertentu.

Secara konsep, Nailul melihat kartu kredit non-bank memiliki kemiripan dengan layanan buy now pay later, karena keduanya menawarkan pinjaman dengan plafon tertentu untuk transaksi konsumsi. Perbedaan utamanya, BNPL berjalan sepenuhnya secara digital tanpa kartu fisik, sedangkan kartu kredit non-bank masih menyediakan kartu fisik kepada pengguna.

Tekanan persaingan dan perubahan perilaku transaksi

Nailul menambahkan perbedaan antara kartu kredit non-bank dan BNPL kini semakin tipis seiring integrasi kartu kredit non-bank dengan QRIS. Integrasi itu dinilai dapat menjadi salah satu jalan pengembangan produk ketika preferensi masyarakat bergeser ke pembayaran berbasis kode respons cepat dibanding penggunaan kartu.

Dari sisi pendanaan, ia menyebut penerbit kartu kredit non-bank umumnya mengandalkan modal awal perusahaan dan penerbitan obligasi. Ke depan, ia memperkirakan akan muncul kerja sama yang lebih matang dengan perbankan, terutama bank digital, untuk memperkuat sumber dana industri ini.

Meski masih berpeluang tumbuh, ia menilai tantangan terbesar sektor tersebut terletak pada perubahan kebiasaan transaksi konsumen. Pada saat yang sama, BNPL masih dipandang sebagai produk pembiayaan digital yang paling diminati masyarakat saat ini.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja bisnis gadai PT Gadai ValueMax Indonesia, kami mencatat porsi agunan yang tidak ditebus tetap sangat kecil (sekitar 0,2% per Maret 2026) dan lelang hanya sekitar 0,05% dari portofolio. Ulasan itu juga menekankan bahwa sumber margin utama perusahaan berasal dari pembiayaan yang sehat dan berulang, sementara hasil lelang cenderung tergerus biaya serta ketentuan OJK yang mewajibkan kelebihan hasil penjualan dikembalikan kepada nasabah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.