Perbankan Indonesia perketat penyaluran kredit saat risiko kualitas aset dipantau
Tekanan global dan pelemahan rupiah mendorong bank-bank besar di Indonesia memperketat kehati-hatian, meski kualitas aset secara umum masih terjaga. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan rasio kredit bermasalah perbankan pada Februari 2026 naik menjadi 2,17% dari 2,14% pada Januari dan 2,05% pada Desember 2025.
Sorotan
- Maybank Indonesia memproyeksikan kenaikan non-performing loan tetap terbatas, maksimal 20 basis poin, meski tekanan kurs rupiah dan biaya impor meningkat.
- PT Bank Mandiri Tbk menjaga NPL di bawah 1% hingga Maret 2026 dengan coverage ratio 245% melalui pertumbuhan kredit selektif dan stress testing rutin.
- PT Bank Tabungan Negara Tbk menurunkan NPL ke 3,1% pada kuartal I-2026 dan menargetkan tetap di bawah 3% sepanjang 2026 berkat dominasi kredit domestik.
Risiko kredit naik terbatas di tengah tekanan rupiah
KONTAN Indonesia melaporkan ekonom Global Markets Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai kenaikan non-performing loan saat ini masih berada pada level terkendali, dengan potensi peningkatan tidak lebih dari 20 basis poin.
Menurut dia, tekanan dari nilai tukar dan kenaikan biaya impor mulai terasa, tetapi lonjakan kredit bermasalah masih terbatas. Risiko gagal bayar tetap perlu dicermati, terutama pada sektor yang terdampak imported inflation dan kenaikan biaya logistik, seperti akomodasi, perhotelan, transportasi, serta manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor.
Myrdal juga menilai risiko itu masih dapat diredam selama pemerintah menjaga stabilitas harga melalui kebijakan fiskal, termasuk peran APBN sebagai penahan guncangan. Dalam kondisi tersebut, bank diperkirakan makin selektif menyalurkan kredit dan memperkuat manajemen risiko melalui stress test berkala untuk menghadapi berbagai skenario tekanan ekonomi.
Bank besar jaga kualitas aset dan fokus pada sektor defensif
PT Bank CIMB Niaga Tbk menyatakan kualitas aset masih cukup baik dengan NPL di kisaran 1,8% sampai 1,9%, meski permintaan kredit masih lemah di hampir seluruh segmen, termasuk korporasi. Bank itu memilih lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit dan memprioritaskan nasabah existing untuk menjaga kesinambungan kinerja.PT Bank Mandiri Tbk juga menjalankan strategi pertumbuhan selektif dengan menyalurkan kredit ke sektor yang dinilai prospektif dan lebih tahan terhadap tekanan ekonomi. Hingga Maret 2026, kualitas aset bank itu tetap solid dengan NPL di bawah 1% dan coverage ratio 245%, disertai pemantauan portofolio yang lebih ketat dan stress testing rutin.
PT Bank Tabungan Negara Tbk menilai dampak pelemahan rupiah terhadap kualitas kredit relatif terbatas karena portofolionya didominasi pembiayaan perumahan dan ritel domestik. Pada kuartal I-2026, NPL BTN berada di 3,1%, turun dari 3,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya, dan perseroan menargetkan rasio itu tetap di bawah 3% sepanjang 2026.
PT Bank Central Asia Tbk juga menyebut pelemahan rupiah belum berdampak signifikan terhadap kualitas kredit karena eksposur kredit valuta asing hanya sekitar 4,9% dari total portofolio. Per kuartal I-2026, NPL gross BCA berada di level 1,8%, turun dari 2% setahun sebelumnya, sementara perseroan terus memperkuat pemantauan portofolio dan komunikasi dengan nasabah untuk mengantisipasi volatilitas global dan gejolak nilai tukar.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang kondisi BCA saat rupiah tertekan, bank ini menegaskan kualitas kredit masih terjaga karena porsi kredit valas relatif kecil dan pemantauan debitur dilakukan secara aktif. BCA juga mencatat pelemahan rupiah tidak selalu negatif, karena sebagian debitur berorientasi ekspor dapat diuntungkan, sementara bank tetap memperkuat komunikasi dengan nasabah serta stress testing untuk mengantisipasi volatilitas global.
Berita Centralbanks Terbaru
- Forex
- Crypto