Saham bank besar melemah di tengah tekanan suku bunga dan likuiditas

Saham bank besar melemah di tengah tekanan suku bunga dan likuiditas
Bank besar di bawah tekanan

Saham bank berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia terkoreksi pada awal perdagangan pekan ini, dengan BBNI mencatat penurunan terdalam di antara kelompok big banks pada Senin, 22 Juni 2026. Tekanan pada sektor ini muncul saat pelaku pasar menimbang sentimen global, kenaikan BI Rate menjadi 5,75%, serta kondisi likuiditas domestik yang lebih ketat.

Sorotan

  • BBNI memimpin pelemahan saham bank besar turun 4,90% ke Rp 3.490 per saham dengan koreksi mingguan 8,16%, diikuti penurunan signifikan pada BMRI, BBRI, dan BBCA.
  • Tekanan saham bank besar dipicu sentimen makroekonomi, kenaikan BI Rate ke 5,75%, peningkatan imbal hasil obligasi, dan likuiditas domestik yang ketat menekan ekspektasi margin bunga bersih.
  • RHB Sekuritas menilai prospek fundamental sektor perbankan tetap positif untuk pertumbuhan laba pada 2026, namun selektivitas saham diperlukan menyikapi kondisi likuiditas dan profitabilitas segmen, terutama bank digital dan lapis kedua.

Pergerakan saham dan pandangan analis

KONTAN Indonesia melaporkan, BBNI memimpin pelemahan saham perbankan besar dengan turun 4,90% atau 180 poin ke Rp 3.490 per saham, setelah sempat dibuka menguat di Rp 3.720. Dalam sepekan terakhir, saham BBNI telah terkoreksi 8,16%.

Pelemahan juga terjadi pada BMRI yang turun 2,09% ke Rp 4.220 per saham dari posisi pembukaan Rp 4.320, dengan koreksi mingguan mencapai 6,22%. BBRI turun 2,05% ke Rp 2.870 per saham dari harga pembukaan Rp 2.930 dan telah melemah 4,01% dalam sepekan, sementara BBCA turun 1,19% ke Rp 6.225 per saham setelah sempat dibuka di Rp 6.400, dengan penurunan mingguan 0,80%.

Head of Research PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menilai pelemahan saham perbankan lebih dipengaruhi sentimen makroekonomi dan faktor eksternal ketimbang perubahan fundamental kinerja bank. Ia mengatakan investor masih mencermati perkembangan geopolitik global, arah kebijakan suku bunga global yang tetap ketat, serta volatilitas nilai tukar rupiah.

Menurut Andrey, dari sisi domestik, kenaikan BI Rate menjadi 5,75%, tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Surat Berharga Negara, serta likuiditas yang lebih ketat turut menekan ekspektasi pasar terhadap margin bunga bersih perbankan. Ia menambahkan aksi ambil untung juga membebani pergerakan saham bank besar setelah reli cukup kuat dalam dua minggu terakhir.

Prospek sektor dan selektivitas investasi

Meski saham-saham bank besar terkoreksi, RHB Sekuritas masih memandang prospek fundamental sektor perbankan tetap positif. Pertumbuhan kredit industri diperkirakan masih mampu tumbuh dua digit seiring aktivitas ekonomi yang tetap berjalan dan kebutuhan pembiayaan yang masih tinggi.

Andrey menilai tekanan pada margin bunga bersih akibat tingginya biaya dana masih dapat diimbangi oleh pertumbuhan kredit, pendapatan berbasis komisi, serta kualitas aset yang tetap terjaga, sehingga menopang pertumbuhan laba perbankan pada 2026. Namun, ia menyebut investor perlu lebih selektif pada saham bank lapis kedua karena kondisi likuiditas ketat berpotensi memberi tekanan lebih besar kepada bank dengan basis pendanaan yang kurang kuat.

Untuk bank digital, RHB Sekuritas juga masih bersikap selektif karena sebagian besar emiten di segmen ini masih menghadapi tantangan profitabilitas, biaya dana yang tinggi, dan persaingan industri yang ketat. Fokus investasi, menurut dia, sebaiknya diarahkan pada emiten yang sudah menunjukkan jalur profitabilitas yang lebih jelas dan memiliki dukungan ekosistem yang kuat.

Walau valuasi saham perbankan mulai terlihat menarik setelah koreksi belakangan ini, RHB Sekuritas belum menetapkan target harga terbaru untuk saham-saham bank besar. Target harga sektor tersebut, kata Andrey, masih dalam peninjauan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan likuiditas perbankan pada semester II-2026, kami membahas pengetatan likuiditas seiring naiknya loan to deposit ratio (LDR) saat pertumbuhan kredit masih berjalan namun penghimpunan dana melambat. Kami juga mengulas bagaimana kenaikan BI Rate dan persaingan dana mendorong cost of fund naik, berpotensi menekan NIM, dan membuat bank lebih selektif dalam penyaluran kredit serta fokus memperkuat dana murah (CASA).

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.